Kemping Mewah di Glamping Lakeside Rancabali Ciwidey

Bandung sebagai tempat wisata emang gak ada matinya ya. Mau Bandung utara, tengah kota ataupun selatan ada aja tempat yang bisa dieksplor. Salah satu tempat liburan nge-hits di Bandung selatan adalah Glamping Lakeside Rancabali di daerah Situ Patenggang Ciwidey Bandung. Di sana kita bisa glamping alias glamour camping alias kemping mewah alias tidur di tenda rasa hotel πŸ™‚

Untuk menuju ke sana dari Jakarta sekarang sudah cukup mudah. Lewat tol Purbaleunyi ambil arah ke Pasirkoja lalu masuk tol Soroja (Soreng-Pasirkoja). Setelah keluar di Soreang silakan ambil arah ke Ciwidey. Pasirkoja-Soreang via tol kira-kira 15 menitan lah. Nah dari Soreang sampai ke Ciwidey ini yang jalannya makin lama makin menanjak dan berkelok-kelok serta agak padat di sekitar pasar. Tapi makin lama pemandangannya juga makin kece. Kebun teh sejauh mata memandang di kiri kanan jalan. Kalau kata saya sih mirip-mirip jalan ke Puncak Pass.

Pintu masuk Glamping Lakeside Rancabali ada di sebelah kanan kalau dari arah Ciwidey. Petunjuk ke arah sana cukup jelas, jalan masuknya lebar dan plang nya gede banget. Tapi dari pintu masuk menuju ke area glampingnya masih jauh. Untuk yang mau menginap gak perlu bayar tiket masuk, tapi untuk pengunjung biasa akan dikenakan tiket masuk. Jalan menuju area glamping dibilang bagus juga nggak jelek juga enggak. Intinya masih dilakukan perbaikan sana sini. Berhubung kami tiba menjelang magrib terasa sekali kalau penerangan jalan kurang. Agak ngeri-ngeri sedap sih lewatin jalanan belok-belok naik turun yang lumayan gelap πŸ™‚ Lega ketika akhirnya sampai juga di lokasi glamping.


Begitu sampai di lokasi, kami langsung di arahkan menuju kantor pengelola untuk proses check-in. Di sini sudah tersedia teh walini dan bandrek sebagai welcome drink. Dan saya baru tau kalau bandrek ada yang bentuknya semacam pasta. Jadi, teksturnya seperti madu, tinggal dituang 1-2 sendok lalu diseduh dengan air panas. Kebayang kan ya?
Continue reading

Advertisements

Vaksinasi Meningitis untuk Umroh di KKP Halim, Sekarang Bisa Registrasi Online

Vaksinasi meningitis untuk umroh hanya berlalu 2 tahun sejak tanggal suntikan diberikan. Bahkan, vaksinasi influenza-nya hanya berlalu untuk 1 tahun. Makanya ketika ada rejeki untuk kembali menunaikan ibadah umroh, saya harus vaksinasi lagi karena vaksinasi yang lalu sudah expired.

Sudah tau kan ya kalau vaksinasi meningitis untuk umroh yang dapat buku kuning itu hanya dilayani di kantor kesehatan pelabuhan atau rumah sakit tertentu saja. Rencana saya sih vaksinasi di Asrama Haji Bekasi lagi karena dulu sudah pernah vaksinasi di sana dan puas dengan pelayanannya. Tapi dua hari sebelum rencana vaksin saya baru tau kalau ternyata di Asrama Haji Bekasi sudah tidak melayani suntik meningitis lagi huhuu. Saya sudah kebayang musti ke Tanjung Priok atau Halim subuh-subuh nih 😦 Saya cari tempat vaksinasi yang gak terlalu antri dan kalau bisa nggak terlalu jauh lokasinya dari kantor karena saya cuma izin datang terlambat ke kantor.

Tapi memang arus informasi di jaman now ini warbiyasak ya. Gak lama saya dapat info kalau di beberapa tempat, registrasi bisa dilakukan secara online. Dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Halim adalah salah satu yang bisa registrasi online. Waini yang saya cari: bisa daftar online dan lokasi pun dekat rumah maupun kantor. Langsung lah buru-buru registrasi.

Biar gampang saya jabarin step-step dari mulai registrasi sampai selesai disuntik lewat point-point di bawah ini ya.
Continue reading

Hotel Malaka, Budget Hotel dengan Desain Minimalis Tropis di Bandung

Seorang teman menyelenggarakan resepsi pernikahannya di sebuah hotel di Bandung. Acaranya hari Sabtu malam. Duh, kalau tek-tok alias one day trip ke Bandung bisa-bisa tiba lagi di Jakarta sudah dini hari. Lebih baik nginep sekalian deh. Kalau nggak mampu bisa nginep di hotel tempat resepsi ya nginep di hotel sekitar juga gak apa-apa. Begitu cek harga kamar hotel tempat acara berlangsung, ternyata masih affordable banget. Dan saya sih langsung suka begitu liat foto-fotonya. Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Jadilah kami langsung booking kamar di Hotel Malaka.

Hotel terdiri dari dua bangunan terpisah: bangunan lobby dan kamar-kamar serta bangunan ruang serbaguna di seberangnya. Jaman dulu, bangunan hotel adalah sebuah toko roti. Penutup atap bekas bangunan lama digunakan kembali sebagai atap di bangunan serbaguna. Penggunaan warna abu-abu membuat bangunan hotel tidak terlalu mencolok malah terlihat β€˜menyatu’ dengan lingkungan sekitarnya. Selain dua bangunan itu, di sisi lain terdapat bangunan semi terbuka untuk kafe.

Suka banget sama desain minimalis tropis kekinian hotel ini. Lobby dibuat semi terbuka tanpa pintu. Area lobby menyatu dengan area ruang makan untuk breakfast. Berhubung di Bandung udaranya masih enak, suasana lobby pun terasa adem meski tanpa AC. Terdapat void menerus sampai ke lantai paling atas dan atap void transparan sehingga selain sirkulasi udara lancar, cahaya matahari pun bisa maksimal masuk ke dalam bangunan. Nggak ada juga lorong kamar yang panjang, sempit dan gelap karena layout bangunan membentuk huruf U.




Kalau bagian exterior dan lobby dominan dengan warna monokrom abu-abu, begitu masuk kamar, warna putih lah yang mendominasi. Untuk tipe superior, ukuran kamarnya hanya sekitar 15m2. Etapi tenyata masih cukup kalau mau tambah extra bed sih. Agak takjub juga secara kami udah pesimis nggak bakal muat nih kalau nambah extra bed. Kalau pilih kamar dengan 1 tempat tidur, ukuran kasurnya queen bed ya, jadi agak sempit kalau untuk tidur 3 orang dewasa.
Continue reading

[Review] Mencoba Essence Lokal Wardah Pure Treatment Essence


Beberapa waktu lalu, saya dapat kiriman box warna hijau tosca dari Wardah, salah satu brand make up dan skincare lokal yang lagi jadi favorit saya. Box-nya cantik banget, duh jadi berasa beauty blogger slash influencer gitu deh. Isi box-nya adalah Wardah Pure Treatment Essence (PTE) dari seri white secret. Saya akui, Wardah cukup masif juga mengeluarkan produk baru. Kayaknya tahun ini ada aja produknya yang di-launching.

Saya sih gak terlalu kenal banyak brand skincare, tapi setau saya jarang banget (atau malah belum ada?) brand lokal yang punya produk essence. Jadi pas Wardah mengeluarkan PTE ini, saya jadi pengen coba. Harga nya sih so-so lah untuk produk lokal. Sebelumnya saya pernah pake essence high end brand Jepang yang kesohor itu loh, yang harganya berkali-kali lipat dari PTE ini. Yang mana saya nggak cukup telaten dan rajin untuk pake sehingga hasilnya pun biasa aja.

PTE dari Wardah dikemas dalam botol doff dengan tutup silver. Botol ini juga masih dibungkus box luar lagi sih. Sekilas ya mirip-miriplah seperti produk essence lain, terutama essence dari brand yang terkenal itu. Tapi botolnya ternyata dari plastik sehingga ringan dan gak kuatir bakal pecah kalau jatuh. Dibawa buat traveling pun masih oke. Isinya menurut saya cukup banyak 100ml dan gak ada kemasan yang lebh kecil lagi. Rugi di botol kali ya kalau bikin kemasan yang lebih kecil.

Biasanya saya mengaplikasikan essence menggunakan kapas. Biar irit maksudnya πŸ˜€ Tapi dari penjelasan mbak-mbak BA Wardah dan keterangan di botol, PTE dipakai dengan cara dituang ke telapak tangan lalu di-tap ke wajah dan leher. Karena essence merupakan pre-serum, jadi urutan pakainya setelah muka dibersihkan adalah PTE-serum-day cream/pelembab/night cream. Saya jarang pakai toner (exfoliate or hydrating). Buat yang pakai toner, PTE dipakai setelah toner. Essence berguna sebagai β€˜booster’ yang membuat kulit lebih mudah menerima rangkain skincare selanjutnya.

Tekstur PTE ini mirip air. Begitu diaplikasikan ke wajah juga hampir gak tercium bau apapun. Mungkin ada aroma tapi samar sekali. Bukan bau wangi gitu ya, entahlah bau apa, semacam bau karet gelang (?) tapi masih sangat tolerable di hidung saya. Lagipula, setelah dipakai PTE ini langsung meresap (atau menguap?) jadi ya sutralah dengan baunya. Setelah meresap juga tidak meninggalkan kesan lengket atau berminyak.

Efek instan setelah pemakaian PTE yang terasa sih kulit lebih halus, lembab dan kenyal. Walaupun lembabnya bukan yang lembab banget. Tapi buat saya justru enak. Karena kan setelah pakai essence wajah akan kita layer dengan rangkain skincare selanjutnya. Jadi nggak perlu essence yang lembabnya senampol pelembab. Untuk hidrasi PTE ini menurut saya cukup oke.

Awalnya saya pakai hanya malam hari saja. Kalau pagi di weekday saya gak sanggup deh musti pakai skincare berlapis-lapis. Musti buru-buru balapan sama kemacetan jalan kakak. Tapi trus saya coba rutinin pakai di pagi hari juga. Karena cepat meresap, udahlah gak usah ditunggu 5-10 menit langsung saya layer dengan sunblock/daycream. So far hasilnya tekstur kulit membaik. Jadi pengen elus-elus muka terus πŸ™‚ Kalau dipakai pas pagi hari juga lumayan bikin bedak dan make up lebih nempel.
Continue reading

Lihat Aneka Bunga di Kebun Mawar Situhapa, Garut


Kebun mawar Situhapa ini kayaknya lagi cukup nge-hits ya. Ada di daerah Kamojang. Kalo dari Garut, jalan ke utara arah Samarang lalu belok ke Jl. Kamojang. Jalan menuju ke sini cukup mulus, naik turun, berbelok-belok dan gak terlalu lebar. Pemandangannya berupa kebun sayur di kiri-kanan jalan.

Kemarin pas ke Garut sebenernya ada opsi mau nginap di daerah sini. Saya naksir Kampung Sampireun dan Kamojang Green Resort. Ada juga penginapan Bukit Alamanda dan Mulih ka Desa. Semua penginapan itu sejalur sama kebun mawar ini. Plus Kawah Kamojang juga ada di daerah sini. Tapi karena ke Garut tujuan utamanya mau ke pemandian air panas makanya kita pilih nginap di Cipanas. Lumayan sekitar 30 menitan dari hotel di Cipanas ke sini.

Pas saya sampai ke sini sekitar jam 10 pagi sih belum terlalu rame. Di depan ada tempat pembelian tiket dan toko souvenir. Saya nggak punya ekspektasi apa-apa pas datang ke sini. Karena kan gak tau ya bunga-bunganya itu ada musim berbunga-nya atau nggak. Nggak usah ngebayangin kebun mawar kayak di Eropa lah yaw. Saya udah mikir ini kalau kita datang pas timing-nya salah dan belum musim berbunga ya paling cuma liat daon aja nih 😦

Ternyata sepertinya saya beruntung. Entah waktunya yang lagi pas atau memang sepanjang tahun seperti ini. Banyak tanaman bunga yang sedang mekar. Ya bukan mekar yang rapet dan padat kayak kebun bunga di luar negeri sih. Tapi lumayan pemandangannya cukup berwarna-warni.

Di sini bukan hanya ada tanaman bunga mawar tapi ada juga berbagai jenis bunga dan tanaman lain. Banyak spot-spot bagus untuk berfoto pastinya. Tapi yang wajib itu terowongan dekat pintu masuk. Itu kalau bunga mawarnya lagi full berbunga pasti cantik banget.

Area kebun mawar ini luas sekali. Dan sebagian besar berupa hamparan rumput hijau. Jadi jangan lupa pakai sunblock, bawa topi/payung dan kacamata item di sini. Jangan khawatir kalau capek jalan, banyak kursi-kursi yang tersebar kok. Ada kios juga di dalam yang jual aneka makanan minuman. Banyak juga orang-orang yang ala2 piknik gitu duduk di tengah taman sambal makan minum.

Continue reading

Menginap di Hotel Tirtagangga, Cipanas, Garut


Ketika saya sedang pilih-pilih penginapan di Cipanas, bapak saya cuma request mau penginapan yang ada kolam renang air panasnya. Saya pun sempat naksir beberapa resort di sana yang kalau liat di foto sih, pemandangan-nya oke banget. Tapi, keliatannya resort-resort itu udah lama ya. Saya kurang tau kondisinya masih bagus atau udah harus renovasi πŸ™‚ Saya ogah kalau harus menginap di resort atau hotel tua πŸ˜›

Saya akhirnya mantap pilih menginap di hotel Tirtagangga karena 2 hal: kamarnya baru direnovasi dan punya kolam aquamedic. Dan kolam renangnya pun tipe yang biasa aja. Saya justru pilih kolam renang biasa karena saya kan pergi sama orang tua. Jadi gak butuh kolam renang ala2 waterbom yang pake seluncuran-seluncuran gitu. Biarin deh gak bisa liat view keren buat diposting di IG yang penting hotelnya oke.

Hotel Tirtagangga ini sebenarnya juga hotel lama, letaknya sudah di ujung Jl. Raya Cipanas. Kalau liat penampakan luarnya sih sungguh tidak meyakinkan. Eksteriornya keliatan jadul. Di foto sih cakep karena pas malam hari banyak lampu-lampu. Tapi saya lumayan naksir pas liat foto-foto interior kamar-nya, terlihat brand new gak ada jadul-jadulnya sama sekali. Terutama kamar tipe deluxe ke atas ya. Kamar superiornya juga terlihat cukup oke kok. Luasan tiap tipe kamar kayaknya sama, mungkin beda di view dari kamar dan fasilitas di dalam kamar.

Saya ambil kamar Grand Deluxe dan dapat di lantai 3. Lumayan juga karena hotel ini gak punya lift huhuu. Karena hotel lama, kamar nya pun cukup lega. Gak kayak hotel jaman sekarang yang kamarnya cimit-cimit. Tempat tidurnya pun king size. Buat tidur orang dewasa bertiga pun masih nyaman. Dan ternyata saya dapat kamar dengan view yang gak mengecewakan kok. Dari balkon kamar, bisa lihat ke arah kolam renang dan restoran. Agak kehalang sama pohon sih, tapi sutralah masak pohon besar gitu kudu ditebang. At least saya gak dapet view atap atau tembok rumah orang lah ya.

Continue reading

Jalan-jalan ke Cipanas, Garut

Minggu lalu saya baru kembali dari jalan-jalan ke Garut. Tadinya sih mau ke Garut pas libur lebaran yang lalu. Tapi saya bilang nanti aja setelah libur lebaran supaya jalanan gak terlalu macet dan tarif penginapan pun lebih miring. Dan kayaknya minggu lalu itu waktunya tepat. Libur lebaran sudah selesai, pelajar sudah pada masuk sekolah dan tanggal tua. Harapannya sih, gak terlalu rame ya.

Perjalanan kali ini memang santai banget karena saya pergi sama orangtua. Gak ada itinerary tapi memang tujuan utama mau ke Cipanas karena bapak saya kepengen ke pemandian air panas. Awalnya galau antara mau ke Cipanas atau Darajat. Tapi karena Darajat letaknya lebih jauh naik ke atas, kita pilih ke Cipanas aja.

Kita berangkat Sabtu pagi sekitar jam setengah tujuh. Dan sudah kena macet aja dong di Bekasi karena memang banyak proyek jalan yang baru mulai. Jadi banyak penyempitan jalan di sana-sini. Keluar tol Cileunyi sekitar setengah 11 dan langsung cari tempat untuk makan siang. Kami makan siang di Nasi Liwet Asep Stroberi. Selesai makan, langsung lanjut ke Cipanas.

Daerah Cipanas letaknya gak terlalu jauh dari pusat kota Garut. Gak sampai yang naik turun gunung gitu kok. Jalan ke sana cukup aja untuk 2 mobil papasan. Kondisi jalan cukup bagus dan lumayan mulus kok. Akses angkutan umum kayaknya juga ada. Karena hotel tempat saya menginap di Cipanas posisinya agak di ujung dan banyak angkot yang muter di depan hotel.

Begitu masuk ke daerah Cipanas, mulai terasa hawa tempat wisata. Di kiri kanan banyak penginapan. Selain penginapan, banyak kolam renang (atau kolam rendam?) air panas. Ya secara tourist attraction –nya Cipanas ya pemandian air panas ini, yang sumbernya dari Gunung Guntur. Tempat wisata ini sudah lama banget dikenal, yah kalau orang Jakarta liburan ke Puncak, orang Bandung liburan ke Cipanas.

Biasanya pemandian air panas kan adanya di daerah pegunungan yang udaranya dingin. Nah, ternyata di Cipanas ini menurut saya gak ada dingin-dinginnya bok. Sore menjelang malam sih terasa agak dingin, tapi bukan udara dingin khas pegunungan gitu. Jaket yang udah dibawa aja sama sekali gak dipakai. Jadi kalau mau menginap di sini, penting cari penginapan yang ada AC-nya. Serius.

Continue reading