Museum Bank Indonesia

Setelah ke Museum Bank Mandiri, perjalanan saya lanjutkan ke Museum Bank Indonesia yang letaknya tepat di sebelah Museum Bank Mandiri. Sepertinya gedung ini baru mengalami renovasi sehingga tampilan bangunan baik eksterior maupun interior berkesan bersih dengan area parkir yang luas. Dengan tiket masuk gratis, Museum BI ini merupakan salah satu museum terbaik yang pernah saya kunjungi. Bangunan berarsitektur art deco ini awalnya adalah rumah sakit (ziekenhuis) yang kemudian menjadi kantor de Javasche Bank. Setelah kemerdekaan, gedung ini lalu digunakan sebagai kantor Bank Indonesia.

Pintu kaca otomatis menyambut pengunjung memasuki museum. Pengunjung lalu harus melewati metal detector dan pemeriksaan keamanan. Tas dan barang bawaan (kecuali barang berharga) dititipkan di lobi. Di bagian atas pintu masuk terdapat kaca patri. Plafon pada area lobi berbentuk lengkung, mengingatkan pada plafond Stasiun Beos Kota. Melewati pintu putar, saya memasuki ruang resepsionis untuk mengisi buku tamu dan mengambil tiket. Lalu saya masuk ke ruangan yang di dalamnya terdapat proyektor yang menampilkan uang koin yang berterbangan. Jika kita ‘menangkap’ koin tersebut dengan bayangan tangan kita maka akan tampil informasi mengenai koin tersebut. Ruangan berikutnya adalah ruang teater. Ketika saya ke sana, kebetulan sedang tidak ada film yang diputar.

 Museum ini menampilkan diorama kegiatan perdagangan dan perekonomian Indonesia sejak jaman VOC termasuk juga cerita soal krisis moneter tahun ’98. Museum BI ini dilengkapi dengan pendingin ruangan dan terdapat beberapa LCD dilengkapi dengan speaker yang menampilkan berbagai informasi terkait dengan dunia perbankan dan perekonomian.

Selain itu ada ruang koleksi Numismatik yang berada di ruang brankas dengan pintu baja. Ruang koleksi Numismatik ini berisi koleksi uang sejak masa kerajaan di Nusantara yang disusun di dalam vitrin kaca dan dilengkapi kaca pembesar. Selain itu, terdapat juga koleksi uang kertas dari berbagai negara di dunia.

Di border tangga terdapat kaca patri yang menggambarkan Dewa Hermes alias dewa pelindung perdagangan dalam mitologi Yunani. Trus ada tulisan ‘De Javasche Bank-Opgericht Anno 1828’(De Javasche Bank-didirikan 1828). Kemudian di bawahnya ada logo 3 kota penting dalam perdagangan di Jawa masa itu, yaitu Surabaya, Batavia dan Semarang.

Yang jelas, di museum ini kita merasakan suasana modern. Eksterior bangunan tetap mempertahankan bentuk bangunan lama, tapi begitu masuk ke dalam, interior tampak sangat modern dengan dilengkapi peralatan yang cukup hi-tech. Museum ini juga dilengkapi toko souvenir yang ada di dekat pintu keluar. Fasilitas pendukung seperti area parkir dan mesjid pun sangat memadai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s