Museum Bank Mandiri

Berhubung Sabtu 19 November 2011 saya bingung gak tau mau kemana buat ngisi waktu akhir pekan, saya main2 ke Kota Tua. Karena berangkatnya juga udah agak siang, jadi saya hanya sempat ke Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.  Museum Bank Mandiri dan Museum BI ini terletak di seberang Stasiun Beos Kota. Kalau naik Transjakarta tinggal turun di halte terakhir (halte Kota) terus tinggal ikutin ramp ke bawah, lewatin terowongan dan sampailah di Museum Bank Mandiri.

Untuk masuk ke Museum Bank Mandiri, khusus nasabah Bank Mandiri nggak dikenakan tiket masuk dengan nunjukin kartu ATM. Kalau untuk umum, ada tiket masuk Rp.2000. Museum Bank Mandiri yang berarsitektur Art Deco ini pada awalnya adalah bangunan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang jadi perusahaan perbankan. Perusahaan Belanda itu kemudian dinasionalisasi tahun 1960 dan gedung ini sempat jadi kantor pusat Bank Exim sebelum akhirnya merger dengan 3 bank lain menjadi Bank Mandiri.

Begitu memasuki lantai dasar, kita langsung disuguhi suasana perbankan tempo doeloe. Terdapat meja teller panjang lengkap dengan kursi dan manekin yang menggambarkan kegiatan perbankan di masa itu. Di sebelah kanan, terdapat area khusus untuk nasabah Cina, juga lengkap dengan meja teller, kursi dan manekin. Koleksi museum terdiri dari benda-benda yang berkaitan dengan perbankan dari masa ke masa, mulai dari mesin tik, kalkulator, mesin ATM, mesin penghitung uang sampai berbagai jenis instrumen keuangan seperti sertifikat deposito, cek, giro dan kartu ATM.

Bangunan yang dirancang oleh arsitek Belanda ini lantainya terbuat dari ubin tegel warna gelap dengan sebagian dinding berupa keramik mozaik yang katanya didatangkan dari Italia. Si arsitek benar-benar memperhatikan iklim tropis Indonesia dalam desain bangunannya, seperti layaknya bangunan-bangunan peninggalan Belanda lainnya. Plafond dibuat cukup tinggi, kusen-kusen terbuat dari kayu dengan ukuran yang besar-besar dengan jalusi di beberapa bagiannya. Selain itu, terdapat inner courtyard di tengah-tengah bangunan yang ditutupi rumput lengkap dengan beberapa pohon besar. Dan courtyard ini dikelilingi oleh selasar yang cukup lebar. Dengan begitu, sirkulasi udara berjalan baik dan terasa sejuk di dalam bangunan.

Menuju ke lantai bawah terdapat ruang khasanah (kluis) yang merupakan ruang untuk menyimpan brankas dan safe deposit box. Di sini terlihat barisan brankas berikut peti untuk menyimpan uang serta safe deposit box jaman dulu. Terdapat pula ruangan untuk menyimpan emas batangan.

Kemudian kita menuju ke lantai atas. Di bordes tangga menuju ke lantai atas terdapat kaca patri (stained glass) ukuran besar karya seniman Belanda. Lima buah kaca patri masing-masing dipisahkan oleh kolom beton, menggambarkan 4 musim yang ada di Eropa dan juga nahkoda asal Belanda, Cornelis de Houtman.

Di lantai atas ini terdapat ruang pemimpin, ruang rapat besar dan ruang sejarah Bank Mandiri. Di ruang kerja pimpinan, selain meja dan kursi kerja, terdapat kamar mandi dengan sanitair tempo dulu yang berukuran besar dan bentuk yang unik. Menuju ke ruangan lainnya, terdapat koleksi berbagai uang yang pernah ada di Indonesia, seragam yang digunakan pegawai dan berbagai jenis souvenir Bank Mandiri. Ruangan-ruangan di lantai atas ini dihubungkan oleh lorong yang lantai dan sebagian dindingnya terdiri dari tegel dan mozaik warna gelap dan beberapa kursi kayu yang menempel ke dinding.

Selama berada di Museum Bank Mandiri ini kita bisa merasakan sensasi gedung tua dengan segala ornamen arsitekturnya sambil berimajinasi membayangkan kegiatan perbankan tempo dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s