Lunar New Year 2563

Tanggal 23 Januari 2012 lalu bertepatan dengan taun baru China 2563, saya dan temen2 OOTers menjelajah ke daerah pecinan Glodok, yang dikenal dengan Petak Sembilan. Konon, daerah ini adalah kawasan pecinan pertama di Jakarta/Batavia. Niatnya memang mau explore klenteng2 di seputaran sana, tapi akhirnya perjalanan berlanjut sampe ke kawasan Kota Tua bahkan ke suaka margasatwa di Muara Angke.

Meeting point di halte busway Glodok jam 9 + ngaret + sarapan dulu, akhirnya kita mulai jalan jam 10 kurang. Untuk menuju ke petak Sembilan, persis setelah jembatan toko Glodok, kita jalan ke arah kiri menyusuri pertokoan dan sampai di gang kecil. Dari depan gang udah keliatan hiasan2 lampion n beberapa petugas sedang berjaga2. Jalan kira2 300an meter masuk ke gang, di sebelah kanan kita langsung ketemu pintu kecil untuk masuk klenteng Jin De Yuan. Pintu masuk ini kayaknya bukan pintu utama sih. Suasana di halaman maupun dalam klenteng cukup ramai dan padat. Banyak juga fotografer2 yang mengabadikan acara saat itu. Malah bisa dibilang jumlah orang yang mau sembahyang dan jumlah pengunjung + fotografer sama banyaknya. Sebenarnya, puncak perayaan Imlek itu adalah Cap Go Meh, yang waktunya kira-kira 2 minggu setelah taun baru imlek.

Begitu masuk ke dalam klenteng yang juga dikenal dengan nama Vihara Dharma Bakti ini, langsung terasa udara panas dari pembakaran lilin dan aroma hio yang cukup pekat. Mulai deh mata terasa pedih dan keringat mulai keluar. Beberapa orang memang sudah persiapan dengan pakai masker. Saking padatnya orang, untuk berjalan pun agak susah. Selain orang yang mau beribadah, pengunjung dan puluhan fotografer, di halaman klenteng juga penuh dengan pengemis dan orang-orang yang nungguin angpao.

Klenteng ini dibangun tahun 1650 untuk menghormati Dewi Kwam Im, makanya dikenal juga dengan nama Kwam Im Teng (kediaman Kwam Im). Tahun 1740 ada pemberontakan besar di Batavia yang terpusat di Glodok yang menyebabkan klenteng ini hancur. Akhirnya tahun 1755, klenteng ini dibangun kembali dan diberi nama Kim Tak Ie.

Kami keluar dari Vihara Dharma Bakti lewat pintu yang satunya lagi (yang sepertinya adalah pintu masuk utama) menuju ke klenteng selanjutnya. Di jalan, saya sempat melewati gereja yang bangunannya bernuansa oriental, namanya Gereja Santa Maria de Fatima. Tapi pas lewat, pintu pagarnya tertutup jadi gak mampir dan masuk ke sana. Beberapa klenteng yang kami datangi selanjutnya bangunannya lebih kecil daripada klenteng yang pertama, dan lebih sepi juga. Klenteng-klenteng selanjutnya saya nggak ingat persis namanya. Kalo gak salah kita sempet dateng ke 3 klenteng lagi yaitu klenteng Tai Se Bio dan 1 klenteng kecil yang letaknya di gang sempit. Yang pasti terakhir kita ke klenteng yang ada di dekat sungai (dan nama klenteng nya pun saya lupa..*ngooook)

Setelah dari klenteng terakhir di pinggir sungai itu, kita jalan sampai ke pasar Asemka, istirahat minum sebentar dan lanjut jalan menuju Kota Tua. Sampai di kawasan Kota Tua, tenyata rame dan padat orang. Mau foto-foto di Kota Tua juga udah males duluan saking padatnya orang. Karena hari Senin, kita nggak bisa explore museum2 di Kota Tua karena tutup. Akhirnya setelah makan siang, kita lanjut ke suaka margasatwa Muara Angke.

Tiba diย suaka margasatwa Muara Angke, kita sempet ditanya macam2 samaย  petugasnya, bahkan ditanya surat rekomendasi segala. Males berdebat panjang lebar, akhirnya kita bayar 5rb perak per orang untuk masuk ke sana dan langsung jalan ke dalam. Suaka margasatwa ini adalah bagian dari hutan mangrove Muara Angke. Hutan mangrove Muara Angke adalah hutan mangrove terakhir di Jakarta yang masih bertahan. Lokasinya ada di antara perumahan mewah Kapuk. Fungsi hutan mangrove ini adalah sebagai penahan abrasi, banjir dan gelombang laut. Dan juga sebagai habibat berbagai satwa: ikan, burung, reptil, monyet ekor panjang. Sedangkan vegetasi yang ada di sini antara lain adalah nipah dan pidada.

Di hutan mangrove ini sih jalanannya berupa jembatan dari papan-papan kayu dan pada saat kita ke sana lagi nggak banyak orang yang datang. Setelah jalan kira2 1 km, sampailah kita di ujung jembatan. Duduk, ngobrol2, foto2 dan menjelang sore kita memutuskan untuk menyudahi acara hari itu dan pulang. Dan menjelang sampai di pintu keluar, ternyata kita bertemu satwa penghuni hutan muara angke, yaitu monyet ekor panjang ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s