Umroh – Madinah

Setelah menempuh perjalanan udara hampir 9 jam, akhirnya kami mendarat juga di kota Madinah. Saya mulai excited karena dari pesawat, sudah terlihat lanskap kota Madinah, gurun pasir dengan bangunan2nya. Kami mendarat di bandara Prince Mochammad bin Abd Aziz, Madinah. Konon bandara ini masih baru. Di bagian interior maupun eksterior terdapat elemen struktur yang bentuknya menyerupai pohon kurma. Proses imigrasi dan nunggu bagasi berjalan lancar. Padahal pemeriksaannya cukup berlapis-lapis. Bandara tidak terlalu ramai, meskipun tetap aja ngantri ketika mau ke toilet.

20151224_140515 copy

Bandara Prince Mochammad bin Abdul Aziz Madinah

Karena sudah masuk waktu Dzuhur, pak ustad mengajak kami sholat di masjid yang berada di seberang bangunan bandara. Angin dingin langsung terasa sekeluarnya kami dari bandara, meski waktu itu tengah hari bolong yang mataharinya juga sedang kenceng2nya. Masjid di seberang bangunan bandara terdiri dari 2 lantai. Lantai 2 diperuntukkan untuk tempat sholat wanita.

Selesai sholat jamak Dzuhur dan Ashar, kami segera naik ke bis menuju ke hotel. Jarak dari bandara ke hotel nggak terlalu jauh, sekitar 20 menit berkendara. Beberapa saat sebelum tiba di hotel, pak ustad mengajak kami melihat ke sisi kanan jalan. Kami sedang melewati pemakaman Baqi. Dari kejauhan tampak Masjid Nabawi. Saya sih mengenalnya dari kubah hijau di mana di bawah kubah hijau itulah makam Rasulullah berada. Pak ustad lalu mengingatkan kami bahwa hari itu adalah tepat 12 Rabiul Awal, hari kelahiran Rasulullah.  Ah ya, kenapa juga saya bisa lupa ya. Dari atas bis kami semua bershalawat. Mulai mbrebes mili deh saya hehee.

Yup, di hari itu, 24 Desember 2015 M, bertepatan 12 Rabiul Awal 1437 H, hari kelahiran Rasulullah, saya bisa menapakkan kaki di kota Nabi, kota Madinah, di Masjid Nabawi….

Kami menginap di Mubarak Al-Madinah Hotel, kira-kira 150m dari Masjid Nabawi. Yang saya suka, hotel ini dekat sekali dengan pintu masuk no 25. Nah lurusannya pintu no 25 ini adalah pintu masuk ke ruang sholat wanita 🙂 Alhamdulillah ya.  Hotel nya ala2 jadul sih menurut saya hehee. Berasa ada di tahun 90-an. Tapi kamarnya cukup luas. Soal penginapan, asal bisa tidur enak plus deket dari masjid mah udah cukuplah.

Tipikal hotel di Arab Saudi, waktu check out biasanya setelah Dzuhur. Sehingga kalau mau check in kamar hotel biasanya baru siap jam 3 sore. Waktu saya tiba sih, kunci kamar langsung diberikan dan langsung bisa masuk kamar. Masuk kamar, seprei sudah diganti baru, tapi tissue2 bekas masih berceceran di karpet (kok bisa sih?), handuk belum ada. Berasa pengen ngambil vacuum cleaner dan sapu buat bersih2 deh 😛 Tapi kan di sini harus banyak-banyak sabar dan istighfar toh? Jadi ya mari kita bersabar aja J . Seharusnya saya sekamar bertiga dengan ortu tapi kami dapat kamar dengan 4 bed sehingga lumayan lah bed yang satu bisa buat taruh barang 😛 Lift hotel seperti gak seimbang dengan jumlah kamar dan tamu. Tiap mau naik atau turun pakai lift antriannya menggila. Apalagi untuk kami yang dapat kamar di lantai 12 (hotel ini ada 13 lantai) Sekali lagi, musti banyak-bayak sabar 🙂

Soal makanan, no complaint at all lah. Saya bukan picky eater sih. Makanan disediakan catering milik orang Indonesia dengan menu masakan Indonesia. Saya malah gak pernah jajan2 loh selama di Madinah, udah kenyang sama makanan di hotel. Menu nya buat saya memang minim sayur sih. Atau kalau pun ada sayurnya kematangan atau jadi terlalu lembek gitu. Tapi cukup lah nge-gadoin selada dan timun sampe puas 🙂

Buat saya pribadi, kota Madinah cukup menyenangkan. Nggak terlalu crowded, orang2nya pun baik-baik. Mau belanja? Sepanjang jalan menuju Mesjid Nabawi banyak pedagang kaki lima, jualannya dari mulai kurma dan kacang2an, coklat, baju, tas, kerudung, buah2an, tasbih dst. Toko-toko termasuk toko emas buka dari sehabis Subuh sampai entah jam berapa. Jam 9-10 malam saya keliling cuci mata di sekitar hotel dan toko-toko masih rame. Harganya relatif lebih murah dibandingkan di Mekkah. Cukup memanjakan lah untuk yang doyan belanja dan punya kerabat dan teman yang suka pesan ‘jangan lupa oleh2 nya yaaa’ 😛

Saya ke sini ketika musim dingin. Suhu seringnya sih berkisar 10-11 derajat. Kalau berangkat untuk sholat tahajud dinginnya cukup bikin menggigil. Kadang sampai waktu Dhuha pun masih dingin. Begitu pun ketika berangkat untuk sholat magrib. Selama di sini sih saya hampir gak pernah pakai jaket *swombong tapi outfit dobel2 *samaaja.  Datang ke masjid harus di awal biar kebagian tempat di dalam masjid yang berkarpet. AC di hotel hampir gak pernah dinyalakan, tapi tiap tidur, saya tetap musti pakai selimut tebal. Mungkin dinginnya berasal dari dinding kamar yang menyerap dingin?

5 hari 4 malam di Madinah harusnya ‘cukup’ kan ya…Tapi tetap aja ketika harus meninggalkan Madinah untuk ke Mekkah rasanya berat sekali….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s