Umroh – Masjid Nabawi

20151227_102600 copy

Agenda utama selama di Madinah tentu saja memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. Kegiatan kita selama di Madinah ya bolak balik masjid –hotel. Sebisa mungkin diusahakan sholat 5 waktu di sini, plus ditambah sholat2 sunnah lainnya, syukur2 bisa tilawah juga. Kalau gak bawa al-quran juga tenang saja, di setiap tiang masjid tersedia banyak al-quran yang bisa dibaca. Sholat di Masjid Nabawi memiliki keutamaan mendapat pahala 1000x lipat dibandingkan sholat di masjid lain kecuali Masjidil Haram.

Di sini, pintu masuk perempuan dan laki-laki dipisah. Di setiap pintu masuk ke area sholat perempuan selalu ada askar perempuan yang memeriksa tas dan barang bawaan kita. Bolehkah bawa hp berkamera atau kamera? Pengalaman saya kemarin, hp berkamera saya taruh di bagian tas yang agak tersembunyi. Jadi aman dari pemeriksaan. Dan askar perempuan ini meriksanya gak terlalu detail sih, entahlah memang begitu atau kemarin itu pas rame aja sehingga ngeceknya juga cepat2. Saya perhatikan sih kayaknya gak ada tuh yang gak boleh masuk gara2 bawa hp berkamera. Tapi, di pintu masuk memang ada running teks yang jelas2 menyebutkan dilarang memotret di dalam masjid. Jadi kalau ada yang foto2 di dalam masjid (termasuk saya) ya itungannya foto colongan tuh 😛

Di pelataran masjid dekat pintu masuk banyak tempat wudhu. Tapi kalau mau ke toilet agak perlu effort nih, karena bangunan toiletnya sendiri ada 2 atau 3 lantai basement. Jadi, kalau saya pribadi sih, atur2 waktu minum biar gak sering2 kebelet 😛 Manalah musim dingin pulak, hampir gak pernah keringatan. Jumlah toilet dan tempat wudhu buanyaak kok, gak perlu kuatir ngantri lama.

Soal tempat untuk alas kaki gimana? Di pintu masuk sih ada rak untuk menaruh alas kaki. Di dalam mesjid, di setiap tiang pun ada rak kecil yang bisa dipakai untuk menaruh alas kaki (dibungkus plastik dulu ya). Tapi mendingan bawa kantong plastik dan disimpan di tas saja deh. Khawatir nanti keluarnya dari pintu berbeda atau lupa taruh di tiang sebelah mana malah berabe.

Sebagai (ngaku2) arsitek, yang menarik di masjid ini salah satunya tentu saja arsitektur bangunannya yang…ah sudahlah indahnya kebangetan. Semua detail bangunan kece semua: tiang masjid, kubah, pintu berlapis warna emas dsb. Belum lagi kalau beruntung bisa menyaksikan bagian kubah masjid ini yang bisa dibuka-tutup. Termasuk juga menyaksikan proses buka-tutup nya payung-payung di pelataran masjid. Btw, di area Masjid Nabawi ini juga sedang ada proyek perluasan masjid. Beberapa tower crane terlihat di sekitar masjid.

Di masjid ini, air zam-zam melimpah ruah. Gentong-gentong berisi air zam-zam lengkap dengan gelas plastiknya tersebar di berbagai area. Di pelataran masjid juga tersedia kran air minum sih, tapi katanya itu bukan air zam-zam melainkan air dari sumur masjid Nabawi. Setiap ke  masjid gak lupa saya bawa botol minum kosong untuk diisi air zam-zam buat persediaan di hotel. Pokoknya selama di sini, puas-puasin lah minum air zam-zam.

Untuk mendapatkan tempat sholat di dalam masjid, saya harus datang satu atau satu setengah jam sebelum azan. Datang pas jam segitu masjid masih terbilang lowong. Sebenarnya paling enak kalau dapat tempat yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk sih. Jadi kalau mau wudhu atau buang air kecil jalannya gak terlalu jauh. Setelah bubaran sholat pun bisa keluar dengan cepat. Asal tau saja, setiap bubaran sholat di sini ramenya macam bubaran sholat Ied di Istiqlal.

20151226_155743 copy

Bubaran sholat Ashar

Raudhah
Salah satu tempat yang memiliki keutamaan di Masjid Nabawi ini adalah Raudhah. Raudhah secara harfiah artinya taman, terletak di antara rumah (sekarang makam Nabi) dan mimbar  Nabi.

Konon ini adalah salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Nggak heran setiap saat orang berbondong-bondong ke sini. Area Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau sedangkan bagian lain dari masjid berkarpet merah.

Pintu keluar Raudhah

Pintu keluar Raudhah

Berhubung tempatnya gak besar dan termasuk ke dalam area sholat pria, untuk wanita yang mau berkunjung ke sini hanya bisa di waktu tertentu saja (waktu Dhuha, setelah Zuhur dan setelah Isya). Saya ke sini hanya sekali. Pengen sih berkali-kali, tapi karena saya barengan sama ibu saya, agak kasian aja kalau mama jadi ikut berdesak2an dengan jamaah lain. Kebetulan pas ke sini pun jamaahnya sangat banyak, padat dan ‘bertabrakan’ antara yang mau masuk dan mau keluar. Riweh dan rada chaos lah. Chaos itu lah yang membuat saya agak jiper kalau mau ajak mama lagi ke sana huhuu.

Saya dan rombongan jamaah perempuan ke Raudhah di hari kedua saya di Madinah, dengan diantar muthawif perempuan. Sampai di pelataran masjid Nabawi sudah banyak kelompok2 jamaah yang akan ke Raudhah juga. Muthawif perempuan yang membimbing dan mengantar ke Raudhah ini adalah orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Saudi. Dan beliau ini semacam muthawif freelance, jadi nggak terikat dengan salah satu travel umroh. Saya perhatikan kelompok-kelompok lain pun begitu. Untuk yang baru pertama kali ke Raudhah menurut saya memang lebih baik didampingi muthawif, tapi selanjutnya kalau mau ke Rudhah lagi sepertinya bisa sendiri. Err ..bukan sendiri juga sih, tetap perlu teman untuk bergantian menjaga ketika salah satu sedang sholat atau berdoa. Oiya, sebelum masuk ke masjid dan menuju Raudhah, kami memanjatkan doa-doa dulu dengan menghadap kiblat.

Antrian menuju Raudhah dibagi berdasarkan ras. Dan ras Melayu (Indonesia,Singapura, Malaysia,Brunei) selalu dapat giliran belakangan untuk ke Raudhah. Gak heran kita bisa menunggu 1-2 jam untuk bisa masuk ke Raudhah.Ya menurut saya sih diambil hikmahnya aja pembagian berdasarkan ras ini. Karena beneran deh, di antara jamaah dari ras lain, ras Melayu ini terlihat mungil2. Ya daripada musti desak2an dengan ras lain yang fisiknya tinggi besar kan?

Begitu dapat giliran masuk dan sudah berada di karpet hijau pun kita masih harus bersabar. Kadangkala gak bisa langsung sholat dan harus menunggu sampai yang lain selesai lebih dulu. Tapi begitu sampai di area berkarpet hijau mata saya sudah berkaca2 sih. Rasulullah, sosok berjarak berabad-abad lamanya dari saya, sekarang rumah dan makamnya hanya berjarak hitungan meter dari tempat saya berdiri. Sambil menunggu kesempatan untuk bisa sholat kita bisa bershalawat atau berdoa dulu. Alhamdulillah saya dan semua anggota rombongan bisa melaksanakan sholat 2 rakaat di Raudhah ini. Puas-puasin lah berdoa di sini terutama di sujud terakhir. Tapi jangan lupa juga perhatikan hak jamaah lain yang mau berdoa juga, jadi sebaiknya jangan lama2 juga berada di sini.

Pemakaman Baqi
Pemakaman Baqi terletak di timur Masjid Nabawi, berupa areal tanah berpagar tembok dan berjeruji besi. Di sinilah tempat beberapa sahabat dan keluarga Rasulullah dimakamkan. Rasulullah sendiri semasa hidupnya sering berziarah ke Baqi pada malam hari. Dalam suatu  riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW telah mendo’akan mereka yang dimakamkan di pemakaman Baqi agar mendapatkan ampunan Allah SWT.

Saya nggak bisa banyak cerita soal pemakaman Baqi karena yang diperbolehkan berziarah ke sini hanya laki-laki. Perempuan hanya diperbolehkan menunggu di luar pagar. Foto di bawah ini diambil bapak saya ketika papa dan jamaah laki-laki berziarah ke sini setelah sholat Subuh.

IMG_4588 copy

Pemakaman Baqi setelah waktu Subuh

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s