Umroh- Mekkah

‘Labbaik Allaahumma ‘umratan…Nawaitul ‘umrata wa ahramtu bihaa’

Setelah 4 malam di Madinah, inilah puncak dari perjalanan kali ini. Melaksanakan umroh di Masjidil Haram. Perjalanan dari Madinah ke Mekkah memakan waktu 5-6 jam menggunakan bis. Kami berangkat ba’da Zuhur setelah makan siang, sudah lengkap menggunakan pakaian ihram.

Kira-kira setelah 40 menit perjalanan, kami berhenti untuk miqat dan berniat umroh di Masjid Bir Ali. Tentu saja sampai sini sudah padat dengan jamaah yang juga akan melakukan umroh. Pak Ustad memberi waktu sekitar 20 menit untuk sholat sunnah ihram dan mewanti-wanti agar jangan sampai nyasar dan terpisah dari rombongan secara di sini semua sudah berpakain ihram serba putih, jadi lebih sulit mengenali orang.

Selesai sholat sunnah ihram, perjalanan dilanjutkan. Niat umroh diucapkan ketika kami berada di atas bis. Setelah niat umroh diucapkan, berlakulah semua larangan ihram. Baru mengucapkan talbiyah aja mata saya sudah berkaca-kaca (lagi), bagaimana kalau sampai Masjidil Haram nih.

Di tengah perjalanan, kami berhenti lagi di rest area untuk makan malam. Waktu itu sudah gelap, karena saya tidur, turun dari bus berasa nyawa belum ngumpul dan badan sudah mulai terasa capek. Makan malamnya dengan menu ala Arab, nasi kebuli (?) plus ayam bakar dan ikan goreng, dengan cara makan satu piring besar untuk dimakan rame2. Lagi2 buat saya makanannya enaaak hahaa…Alhamdulillah ya..

Sampai Mekkah menjelang tengah malam. Check in hotel, selonjoran sebentar dan langsung dipanggil turun untuk melaksanakan umroh. Mulai deg-degan ketika memasuki Masjidil Haram. Suasana padat dan riweh apalagi dengan adanya proyek perluasan masjid. Dan segala capek di perjalanan mendadak lenyap setelah melihat pemandangan ini….

20151229_014721 copy

Speechless…saya nggak tau harus berkata apa…Ka’bah berjarak hanya beberapa meter dari tempat saya berdiri. Pak Ustad langsung mengajak kami semua untuk sujud syukur.

Prosesi umroh berjalan lancar. Tawaf, sa’i dan diakhiri dengan tahalul. Saat tawaf, tak henti2nya saya memandangi Ka’bah. Kondisi Masjidil Haram lewat tengah malam itu masih ramai sekali. Untuk sholat sunnah tawaf pun saya gak bisa sholat di lurusannya maqam Ibrahim. Prosesi umroh selesai jam setengah empat pagi. Balik ke hotel langsung tidur dan akhirnya terpaksa sholat Subuh di hotel. Anehnya, entah karena jam tidur sudah lewat, terlalu excited atau gimana saya nggak terlalu ngantuk-ngantuk amat loh setelah umroh itu. Bangun tidur yang cuma 2 jam-an itu meskipun badan masih capek tapi mata segar2 aja tuh. Padahal kalau dipikir-pikir, hari itu hari yang panjang dan melelahkan banget loh.

Sai, di jam 3 pagi ramenya masih kayak gini

Sai, di jam 3 pagi

Memasuki waktu Dhuha, saya mengajak kedua ortu untuk tawaf sunnah, sholat Dhuha dan dilanjut sampai sholat Zuhur di masjid. Belakangan, saya agak ‘menyesali’ sih. Bukan apa2, bapak ibu saya kan sudah berumur, kasian sebenarnya baru selesai umroh yang menguras fisik menjelang Subuh terus selang beberapa jam saya ajak tawaf lagi. Padahal malam harinya rencananya kami akan ikut pak ustad untuk tawaf sunnah juga.

Gak mau rugi dan harus manfaatin waktu sebaik-baiknya, malam harinya saya dan ortu ikut tawaf sunnah bareng pak ustad dan rombongan. Setelah tawaf, kami diajak juga ke tempat-tempat mustajab untuk bedoa di Masjidil Haram: rukun yamani, hijir Ismail, multazam, juga melihat maqam Ibrahim. Saya sempat memegang dinding Ka’bah dan rukun yamani. Alhamdulillah saya juga sempat sholat 2 rakaat di hijir Ismail, berdoa di multazam, rukun yamani dan di bawah talang emas. Amanat berupa titipan doa dari teman-teman pun insyaAllah sudah saya sampaikan. Syukurlah, 2 kali tawaf sunnah dalam sehari kondisi saya dan ortu sehat-sehat saja.

Yang gak kesampaian adalah menyentuh Hajar Aswad. Saya sendiri berjanji gak akan memaksakan diri sih. Pak ustad pun gak merekomendasikan jamaah perempuan untuk ke sana mengingat desak2an-nya. Tapi kalau yang cowok2 dan masih muda pak ustad- nya mau nganterin ke hajar aswad.

Tengah malam selesai tawaf sunnah, paginya kami sudah harus siap-siap untuk ziarah dan umroh kedua. Rata-rata travel memberikan kesempatan untuk umroh sebanyak 2 kali, begitu pun travel kami. Umroh yang kedua bisa diniatkan atas nama diri sendiri atau untuk membadalkan orang lain.

Untuk orang yang sudah tinggal di Mekkah bisa mengambil miqat di Ji’ronah, Tan’im atau Hudaibiyah. Kami sendiri mengambil miqat di Hudaibiyah.  Hudaibiyah ini kayaknya gak terlalu populer dibanding Tan’im atau Ji’ronah. Ada pertimbangan mengapa memilih  miqat di sini. Menurut pak ustad, tempat ini sepi dan sudah jarang sekali dikunjungi. Mesjidnya pun gak pernah diperbesar. Takutnya, kalau semakin jarang yang berkunjung, lama kelamaan tempat ini akan digusur/dimusnahkan. Dan benar sih, begitu tiba ternyata area sholat untuk wanita nya kecil, toilet pun agak2 darurat. Mana lagi hujan pulak. Waktu itu, hanya ada 3 bis yang mengambil miqat di sana.

Sedikit cerita, sebelum berangkat dari Jakarta, saya sempat membatin, kira-kira saya bisa nggak ya lihat Mekkah dalam keadaan hujan? Yang saya tahu, di Arab Saudi jarang sekali hujan. Jadi, kalau turun hujan ya berarti berkah. Beberapa saat sebelum sampai di tempat miqat, turun hujan deras dong. Kesampaian lah keinginan saya mengalami hujan di Arab.

Sampai di Masjidil Haram ba’da Zuhur untuk melaksanakan umroh kedua, hujan masih turun sedikit rintik-rintik. Meski begitu, prosesi umroh tetap dilakukan dong. Salutnya, petugas-petugas masjid langsung mengepel/ mengeringkan lantai yang tergenang air dengan cepat. Gak lama kemudian hujan berhenti sih. Alhamdulillah gak harus melaksanakan umroh sambil berpanas-panasan. Kacamata hitam yang sudah disiapkan pun urung dipakai. Umroh kedua ini berjalan lancar, sempat terpotong sholat Ashar dan selesai jam 4 lewat.

Sama seperti ketika di Masjid Nabawi, di Masjidil Haram ini, untuk mendapatkan tempat sholat di dalam masjid, kita harus datang paling telat satu jam sebelumnya. Kira-kira setengah jam sebelum azan, masjid tentu sudah penuh kan, jadi askar-askar mulai menutup akses ke dalam. Di setiap pintu dijaga askar dan gak boleh masuk. Saya awalnya gak ngeh soal hal ini.

Nah, pernah sekali saya dan ibu sudah ada di dalam masjid dan saya batal wudhu jadi mau ambil wudhu lagi ke luar. Untuk ke luar masih bisa tapi saya lihat setiap pintu sudah dijaga dan ditutup. Pelataran masjid pun penuh jamaah. Susah payah saya menuju ke tempat wudhu. Begitu selesai wudhu dan mau masuk lagi ke masjid tentu gak boleh dong huhuuu. Bahkan saya sempet agak ngotot sama askarnya minta dibolehin masuk. Tetep gak boleh. Terpaksalah saya sholat di pelataran masjid  tanpa sajadah dengan angin yang kencangnya aduhai. Cukup sekali deh  mengalami itu. Tapi begitu selesai sholat, pintu kembali langsung dibuka sih.

Shalat di Masjidil Haram pahalanya 100.000x lipat (iya nol-nya gak salah kok) dibandingkan shalat di masjid lain. Untuk itu, usahakan bisa selalu shalat 5 waktu di sini plus shalat-shalat sunnah lainnya. Selain itu, perbanyak juga tawaf sunnah. Tapi kalau misalnya saya harus memilih, saya lebih memilih untuk tawaf sunnah dibanding shalat sunnah sih. Secara tawaf kan hanya bisa dilakukan di Masjidil Haram.Ya, pendapat orang beda2 kan ya. Ulama2 pun ada beda pendapat soal hal ini. Wallahualam.

Masjidil Haram ini luasnya gak kira-kira. Apalagi nanti kalau perluasannya sudah selesai. Gak heran askar-askar nya pun bertebaran di mana-mana. Karena sedang ada perluasan mesjid, beberapa area ada yang ditutup. Pernah sekali nyasar di dalam masjid, nyari pintu keluarnya muter-muter dan susah cyin. Sejak itu, kalau cari tempat shalat diusahakan gak terlalu jauh dari pintu.

Malam sebelum tawaf wada, saya memanfaatkan saat-saat terakhir di Mekkah untuk cuci mata dan beli sedikit oleh-oleh di toko2 yang ada di Zam-zam Tower. Kemarin-kemarin pengennya fokus ibadah, sekarang boleh dong keliling mal. Gak seperti waktu di Madinah yang lumayan sering cuci mata, di Mekkah bisa dibilang hanya sekali inilah saya cuci mata. Kebetulan jalan dari penginapan ke mesjid gak melewati toko2 juga.

Saya ngebayanginnya Zam-zam Tower ini mal mewah macam di Jakarta, nggak taunya ya toko2 dan tempat makan semacam ITC lah. Yang tadinya mau keliling seluruh mal, akhirnya cume muter-muter sebentar aja. Pulang nya, saya jajan es krim di sebelah hotel, harganya SR 3 dan rasanya enaaak. Perasaan cuma sekali itu aja deh saya jajan selama umroh.

20151229_131256 copy

Sebenarnya malam itu saya pengen tawaf sunnah lagi, serta berlama-lama di Masjidil Haram menikmati saat-saat terakhitr di sana. Tapi nggak ada temannya kakaaak dan nggak mungkin ngajak ortu yang pasti udah cukup capek juga. Akhirnya ya sudah, selesai belanja, balik ke penginapan dan istirahat.

Selama di Mekkah, kami menginap di Al-Maqam Mekkah, berjarak kira-kira 250-an meter dari Masjidil Haram. Penginapannya nggak sebesar di Madinah, ukuran kamarnya lebih kecil, tapi nggak pernah sampai antri lift lama seperti hotel di Madinah. Saya perhatikan jarang orang Indonesia menginap di sini, kebanyakan orang Malaysia. Tepat di seberang hotel ada beberapa gedung tempat singgah keluarga kerajaan atau tamu kerajaan yang akan mengunjungi Masjidil Haram.

Soal makanan juga sekali lagi no complain lah. Makanannya enak-enak semua 😛 Sepertinya yang selalu ada di tiap waktu makan baik di Madinah maupun Mekkah adalah daun selada segar , timun plus sambal.  Daun selada nya besar dan agak tebal tapi rasanya renyah banget gak ada pahit2 nya.

Menurut saya, kota Mekkah cukup crowded. Sementara kota Madinah lebih tenang. Apalagi dengan adanya proyek perluasan, 24 jam ramai dengan jamaah umroh maupun pekerja2 proyek. Dan entah kenapa, di sini seperti dikejar2 waktu. Kayaknya waktu sempit sekali dan gak berasa tau-tau udah waktunya pulang ke Jakarta. Etapi tetap aja 2 kota ini punya tempat masing-masing lah di hati saya.

Hari terakhir sebelum pulang ke Jakarta, kami melakukan tawaf wada. Tawaf wada adalah ibadah terakhir yang dilakukan di Masjidil Haram. Di pagi itu Masjidil Haram nggak terlalu rame loh, sehingga tawaf wada berlangsung lancar dan cukup cepat. Puas2in deh memandangI Ka’bah, sambil berdoa semoga bisa kembali lagi ke sana. Setelah tawaf wada, rasanya campur aduk…sedih dan kayaknya berat sekali harus meninggalkan Masjidil Haram dan Mekkah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s