Lihat Aneka Bunga di Kebun Mawar Situhapa, Garut


Kebun mawar Situhapa ini kayaknya lagi cukup nge-hits ya. Ada di daerah Kamojang. Kalo dari Garut, jalan ke utara arah Samarang lalu belok ke Jl. Kamojang. Jalan menuju ke sini cukup mulus, naik turun, berbelok-belok dan gak terlalu lebar. Pemandangannya berupa kebun sayur di kiri-kanan jalan.

Kemarin pas ke Garut sebenernya ada opsi mau nginap di daerah sini. Saya naksir Kampung Sampireun dan Kamojang Green Resort. Ada juga penginapan Bukit Alamanda dan Mulih ka Desa. Semua penginapan itu sejalur sama kebun mawar ini. Plus Kawah Kamojang juga ada di daerah sini. Tapi karena ke Garut tujuan utamanya mau ke pemandian air panas makanya kita pilih nginap di Cipanas. Lumayan sekitar 30 menitan dari hotel di Cipanas ke sini.

Pas saya sampai ke sini sekitar jam 10 pagi sih belum terlalu rame. Di depan ada tempat pembelian tiket dan toko souvenir. Saya nggak punya ekspektasi apa-apa pas datang ke sini. Karena kan gak tau ya bunga-bunganya itu ada musim berbunga-nya atau nggak. Nggak usah ngebayangin kebun mawar kayak di Eropa lah yaw. Saya udah mikir ini kalau kita datang pas timing-nya salah dan belum musim berbunga ya paling cuma liat daon aja nih 😦

Ternyata sepertinya saya beruntung. Entah waktunya yang lagi pas atau memang sepanjang tahun seperti ini. Banyak tanaman bunga yang sedang mekar. Ya bukan mekar yang rapet dan padat kayak kebun bunga di luar negeri sih. Tapi lumayan pemandangannya cukup berwarna-warni.

Di sini bukan hanya ada tanaman bunga mawar tapi ada juga berbagai jenis bunga dan tanaman lain. Banyak spot-spot bagus untuk berfoto pastinya. Tapi yang wajib itu terowongan dekat pintu masuk. Itu kalau bunga mawarnya lagi full berbunga pasti cantik banget.

Area kebun mawar ini luas sekali. Dan sebagian besar berupa hamparan rumput hijau. Jadi jangan lupa pakai sunblock, bawa topi/payung dan kacamata item di sini. Jangan khawatir kalau capek jalan, banyak kursi-kursi yang tersebar kok. Ada kios juga di dalam yang jual aneka makanan minuman. Banyak juga orang-orang yang ala2 piknik gitu duduk di tengah taman sambal makan minum.

Continue reading

Menginap di Hotel Tirtagangga, Cipanas, Garut


Ketika saya sedang pilih-pilih penginapan di Cipanas, bapak saya cuma request mau penginapan yang ada kolam renang air panasnya. Saya pun sempat naksir beberapa resort di sana yang kalau liat di foto sih, pemandangan-nya oke banget. Tapi, keliatannya resort-resort itu udah lama ya. Saya kurang tau kondisinya masih bagus atau udah harus renovasi πŸ™‚ Saya ogah kalau harus menginap di resort atau hotel tua πŸ˜›

Saya akhirnya mantap pilih menginap di hotel Tirtagangga karena 2 hal: kamarnya baru direnovasi dan punya kolam aquamedic. Dan kolam renangnya pun tipe yang biasa aja. Saya justru pilih kolam renang biasa karena saya kan pergi sama orang tua. Jadi gak butuh kolam renang ala2 waterbom yang pake seluncuran-seluncuran gitu. Biarin deh gak bisa liat view keren buat diposting di IG yang penting hotelnya oke.

Hotel Tirtagangga ini sebenarnya juga hotel lama, letaknya sudah di ujung Jl. Raya Cipanas. Kalau liat penampakan luarnya sih sungguh tidak meyakinkan. Eksteriornya keliatan jadul. Di foto sih cakep karena pas malam hari banyak lampu-lampu. Tapi saya lumayan naksir pas liat foto-foto interior kamar-nya, terlihat brand new gak ada jadul-jadulnya sama sekali. Terutama kamar tipe deluxe ke atas ya. Kamar superiornya juga terlihat cukup oke kok. Luasan tiap tipe kamar kayaknya sama, mungkin beda di view dari kamar dan fasilitas di dalam kamar.

Saya ambil kamar Grand Deluxe dan dapat di lantai 3. Lumayan juga karena hotel ini gak punya lift huhuu. Karena hotel lama, kamar nya pun cukup lega. Gak kayak hotel jaman sekarang yang kamarnya cimit-cimit. Tempat tidurnya pun king size. Buat tidur orang dewasa bertiga pun masih nyaman. Dan ternyata saya dapat kamar dengan view yang gak mengecewakan kok. Dari balkon kamar, bisa lihat ke arah kolam renang dan restoran. Agak kehalang sama pohon sih, tapi sutralah masak pohon besar gitu kudu ditebang. At least saya gak dapet view atap atau tembok rumah orang lah ya.

Continue reading

Jalan-jalan ke Cipanas, Garut

Minggu lalu saya baru kembali dari jalan-jalan ke Garut. Tadinya sih mau ke Garut pas libur lebaran yang lalu. Tapi saya bilang nanti aja setelah libur lebaran supaya jalanan gak terlalu macet dan tarif penginapan pun lebih miring. Dan kayaknya minggu lalu itu waktunya tepat. Libur lebaran sudah selesai, pelajar sudah pada masuk sekolah dan tanggal tua. Harapannya sih, gak terlalu rame ya.

Perjalanan kali ini memang santai banget karena saya pergi sama orangtua. Gak ada itinerary tapi memang tujuan utama mau ke Cipanas karena bapak saya kepengen ke pemandian air panas. Awalnya galau antara mau ke Cipanas atau Darajat. Tapi karena Darajat letaknya lebih jauh naik ke atas, kita pilih ke Cipanas aja.

Kita berangkat Sabtu pagi sekitar jam setengah tujuh. Dan sudah kena macet aja dong di Bekasi karena memang banyak proyek jalan yang baru mulai. Jadi banyak penyempitan jalan di sana-sini. Keluar tol Cileunyi sekitar setengah 11 dan langsung cari tempat untuk makan siang. Kami makan siang di Nasi Liwet Asep Stroberi. Selesai makan, langsung lanjut ke Cipanas.

Daerah Cipanas letaknya gak terlalu jauh dari pusat kota Garut. Gak sampai yang naik turun gunung gitu kok. Jalan ke sana cukup aja untuk 2 mobil papasan. Kondisi jalan cukup bagus dan lumayan mulus kok. Akses angkutan umum kayaknya juga ada. Karena hotel tempat saya menginap di Cipanas posisinya agak di ujung dan banyak angkot yang muter di depan hotel.

Begitu masuk ke daerah Cipanas, mulai terasa hawa tempat wisata. Di kiri kanan banyak penginapan. Selain penginapan, banyak kolam renang (atau kolam rendam?) air panas. Ya secara tourist attraction –nya Cipanas ya pemandian air panas ini, yang sumbernya dari Gunung Guntur. Tempat wisata ini sudah lama banget dikenal, yah kalau orang Jakarta liburan ke Puncak, orang Bandung liburan ke Cipanas.

Biasanya pemandian air panas kan adanya di daerah pegunungan yang udaranya dingin. Nah, ternyata di Cipanas ini menurut saya gak ada dingin-dinginnya bok. Sore menjelang malam sih terasa agak dingin, tapi bukan udara dingin khas pegunungan gitu. Jaket yang udah dibawa aja sama sekali gak dipakai. Jadi kalau mau menginap di sini, penting cari penginapan yang ada AC-nya. Serius.

Continue reading

Weekend di The (New) Girrafe Royal Safari Garden

20170204_115819-copy

Yeeeay, piknik pertama di 2017! Awal bulan ini saya kembali menginap di Royal Safari Garden (RSG) Cisarua. Lebih dari 3 tahun yang lalu, saya juga pernah menginap di sini. Tempat piknik yang nggak jauh-jauh dari Jakarta ya salah satunya ke kawasan Puncak ini. Jadi meskipun rame dan macet pas weekend ya dijabanin aja hahaa..

Kali ini, saya dan keluarga menginap di β€˜The Girrafe’ atau New Girrafe yang merupakan hotel terbaru di area RSG. Emang saya lagi suka nginep di hotel-hotel baru karena pasti masih bagus, desain kekinian dan kinclong. Bangunan hotel terdiri dari 4 (atau 5 ya?) lantai dan posisinya kira-kira di tengah area RSG. Kalau jalan kaki dari pintu masuk lumayan juga jaraknya, tapi juga belum sampai ke belakang banget. Di depan hotel ada parkiran mobil yang IMHO sih gak terlalu luas apalagi kalau hotel sedang full booked.

Berhubung masih hawa Imlek, hiasan dan dekorasi di pintu masuk dan lobby hotel juga bernuansa Imlek. Ada patung ayam warna merah di pintu masuk dan juga banyak lampion di lobby. Lobby-nya jadi satu dengan kafe kecil. Lobby dikelilingi dinding kaca sampai ke atas sehingga kalau siang terangnya pol apalagi atapnya juga semi transparan.
20170204_115233-copy
20170204_115535-copy
Continue reading

Menginap di Pesonna Hotel Tegal

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta setelah road trip singkat ke Jawa Tengah, kami memutuskan transit dan menginap semalam di Tegal. Selain memang perlu istirahat, bapak saya juga penasaran kepengen liat tol Brebes Timur yang nge-hits di musim mudik yang lalu πŸ™‚

Pilihan hotel di Tegal yang bisa dipesan online sebenarnya banyak. Dari yang rate-nya murah sampai yang agak mahal. Kami nggak punya preferensi lokasi tertentu sehingga sepertinya lokasi hotel di mana aja gak masalah. Jadi saya pilih aja hotel yang masih baru, reviewnya cukup bagus dan tentu saja harganya affordable. Dan pilihan kami adalah Pesonna Hotel.
20161229_063310-copy
Hotel ini terhitung masih baru banget. Baru soft launching (dan belum grand launching) sekitar 4 bulan yang lalu. Kebayang dong, bangunannya pun masih gres dan kinclong. Karena baru soft launching dan mungkin belum full service (plus promo akhir tahun dari Trav*l*ka), saya pun dapat harga yang cukup murah.

Dari luar, bangunan hotel ber-desain cukup modern dengan warna netral. Di fasad bangunan terdapat secondary skin bermotif batik kawung. Lobby hotel tidak terlalu besar tapi tampak kekinian ala-ala hotel jaman sekarang lah. Area parkir cukup luas ada di bagian samping hotel yang sepertinya jadi satu dengan area parkir kantor Pegadaian. Oiya, hotel ini adalah salah satu unit bisnis-nya Pegadaian. Pantesan aja ada kantor Pegadaian di bagian depan jadi satu dengan bangunan hotel.
Continue reading

Mengunjungi Benteng van Der Wijck, Gombong, Kebumen

20161228_113119-copy

Kunjungan ke Benteng van Der Wijck ini sebenarnya hanya sekedar mampir saja. Karena setiap kali pulang mudik melewati jalur selatan Jawa Tengah, kami pasti lewat sini. Ibu saya sih, yang tetiba ada ide untuk mampir sini. Lokasi benteng ini gak jauh dari jalan raya Kebumen menuju Yogyakarta, mungkin sekitar 1km. Petunjuk ke sini juga cukup jelas, gak pake nyasar sama sekali. Tinggal ikuti plang petunjuk jalan aja. Lokasinya terletak di dalam komplek tentara.

Dari jauh, bangunan benteng tampak menarik dengan dinding bata warna merah. Kalau dilihat dari atas, denah benteng berbentuk oktagonal atau segi delapan. Keseluruhan bangunan terbuat dari batu bata, termasuk sampai ke atapnya. Bangunan terdiri dari 2 lantai. Bagian tengah benteng berupa lapangan besar. Di salah satu ruangan dipajang foto-foto benteng sebelum dipugar. Sayangnya, di sini gak tersedia informasi atau deskripsi mengenai sejarah benteng ini. Petugas yang mau ditanya-tanya pun nggak ada. Informasi hanya ada berupa foto-foto atau paling tanya-tanya sama pas supir kereta keliling.

Hampir semua sisi bangunan, terutama bagian luar cukup instagramable. Di bagian dalam bangunan, ketika saya datang nggak ada lampu yang dinyalakan. Untuk ruangan yang besar dengan jendela yang juga besar-besar sih gak masalah karena cahaya dari luar bisa masuk. Cuma untuk area tangga yang cukup curam dan bentuknya melingkar ya agak bikin ngeri-ngeri sedap ya. Pintu-pintu (atau lebih tepatnya bukaan kali ya, secara hampir semua ruangan di sini sudah tidak berpintu) di bagian dalam berbentuk lengkung, termasuk juga plafon yang berbentuk dome. Beberapa dinding dalam tampak lumutan. Mungkin untuk sebagian orang ini jadinya keliatan artistik, oke buat difoto-foto. Tapi kok saya ngeliatnya malah agak gimana gitu, berasa geli-geli aja.
Continue reading

Liburan ke Pemandian Air Panas Guci, Tegal

Sebenarnya udah lama tau ada tempat wisata pemandian air panas Guci di Bumijawa, Tegal. Dan baru kesampaian ke sana di penghujung 2016 lalu. Berangkat dari Jakarta jam setengah enam pagi, sedikit macet menjelang gerbang tol Cikarang Utama, akhirnya tiba di Guci sekitar jam 1 siang. Karena baru pertama kali ke sini, nggak nyasar sih, cuma ada lah 4-5 kali tanya-tanya ke orang di pinggir jalan πŸ™‚ Bisa sih liat maps tapi agak kurang pede hahaa. Dan untungnya, semua orang yang ditanya menunjukkan rute dengan benar.

Lokasi pemandian air panas Guci terletak di kaki Gunung Slamet. Jalan ke sana tentu berkelok-kelok, penuh tanjakan dan turunan. Jalanan cukup mulus, cuma agak sempit aja. Semakin dekat ke arah obyek wisata Guci, banyak plang nama hotel beserta jaraknya berapa km lagi. Tapi kayaknya jaraknya ini gak bisa terlalu dipercaya πŸ˜› Ada yang tertulis 7km tapi setelah jalan 7km tetap aja belum nyampe-nyampe ke tujuan. Sepanjang jalan pemandangannya bagus, banyak kebun sayur ataupun pepohonan. Mata cukup termanjakan sama yang ijo royo-royo deh.

Akhirnya kita sampai juga di pintu masuk kawasan wisata Guci. Tiket masuk lumayan murah: Rp.7000 per orang dan Rp.2000 aja untuk mobil. Berhubung lagi musim liburan, mendekati lokasi pemandian air panas, mobil berhenti aja dong, macet total. Padat orang maupun kendaraan. Mana jalannya sempit dan banyak tanjakan atau turunan. Ada parkiran luas tapi posisinya jauh dari pemandian.

Kami ke sana tanpa booking hotel dulu. Ya abis penginapan di sini jarang banget yang bisa dibooking online. No telepon pun kebanyakan no hp yang susah juga dihubungi. Sekalinya bisa dihubungi, kamar penuh di tanggal yang kita mau. Penginapan yang dekat dengan pemandian air panas kebanyakan berupa kamar atau rumah warga yang disewakan. Bangunan lumayan baru tapi parkirannya sempit. Kalau mau cari hotel, kebanyakan lokasinya di bawah, cukup jauh dari pemandian. Makanya, hotel di sini biasanya juga punya kolam renang air panas sendiri.

Lagi macet-macetan di tanjakan, tetiba liat plang gede Hotel Grand Mega Guci. Coba telp ke 2 no hp gak ada yang diangkat. Nggak taunya hotelnya persis ada di sebelah kanan kita. Ya udah, saya langsung turun dan tanya kamar kosong. Kamar yang available tinggal yang paling murah, cuma Rp.350ribu include sarapan πŸ™‚ Akhirnya kita ambil yang ini karena udah takut gak kebagian, lalu check-in dan istirahat di hotel dulu aja.
Continue reading