Menginap di Hotel Grand Kanaya Baturaden


Lebaran tahun ini saya mudik ke kampung halaman ortu. Nah, pulangnya kami biasanya mampir nginep di salah satu kota yang dilewati (atau sengaja dilewati:) ) Tahun ini bapak saya pengen nginep semalam di Baturaden. Dulu jaman saya masih kecil, Baturaden ini termasuk tempat yang sering kami datangi pas mudik atau liburan. Dan akhirnya, saya kembali lagi ke Baturaden setelah entah berapa ratus purnama.

Setelah googling dan mempertimbangkan ini itu, saya akhirnya booking kamar di Hotel Grand Kanaya. Saya booking langsung ke hotelnya karena kamar di sini tidak available di tanggal yang saya mau di semua situs booking hotel online. Maklum namanya juga musim liburan. Rate pas libur lebaran pun lumayan juga ya, hampir 2x lipat hari biasa cyin.

Dari segi lokasi, hotel ini strategis banget. Meskipun letaknya masuk ke dalam, tapi gak terlalu jauh dari jalan utama. Dan cukup dekat pula dengan Lokawisata Baturaden, sekitar 500m. Di dekat hotel juga ada restoran dan toko oleh-oleh Pringsewu. Warung kopi dan warung makan juga ada. Cukup jalan kaki aja. Jadi urusan perut aman lah. Kalau mau jalan-jalan dan males bawa mobil juga gampang kalau mau naik angkot. Secara jalan di Baturaden ini menanjak cukup tajam jadi agak perjuangan kalau jalan kaki.

Begitu melewati pintu gerbang hotel, langsung terpampang parkiran kendaraan yang luas. Hotelnya memang besar ada 3 lantai. Sempet curiga jangan-jangan kapasitas parkiran jauh lebih besar daripada jumlah kamar. Pokoknya semacam nggak ada itu cerita susah dapat parkir. Ya paling kalau kurang beruntung dapat parkiran agak jauh dari bangunan aja.

Proses check-in pun lancar jaya tanpa ribet. Hanya yang nggak biasa adalah di hotel ini diberlakukan uang deposit sebesar Rp.100rb per kamar. Atau kalau nggak mau pakai deposit ya KTP harus ditahan 🙂 Mungkin hotel ini punya banyak pengalaman tamu yang ngerusak atau ngilangin property hotel kali yak. Secara pas saya minta key card tambahan ternyata dibilang kunci tambahan pun udah abis atau gak ada. Jangan-jangan kuncinya banyak diilangin tamu nih 😛

Ketidakbiasaan lainnya adalah di hotel ini kita bisa pilih mau pakai kamar ber-AC atau nggak. Baturaden memang daerah pegunungan yang udaranya dingin sih. Apalagi hotel ini letaknya cukup di atas. Cuma berhubung beberapa hotel di kawasan ini ada yang ber-AC, saya kan jadi curiga jangan-jangan udara Baturaden memang sudah tidak sedingin dulu ketika saya beberapa kali ke sini. Akhirnya saya pilih kamar ber-AC daripada nggak bisa tidur karena gerah ye kan. Selisih harga kamar yang ber-AC dan yang tidak adalah Rp.50rb untuk tipe Deluxe. Agak aneh sih ya mau pake AC kudu nambah biaya. Ya udahlah direlakan aja itu 50rb.

Ternyata, AC ada gunanya juga 🙂 Sebenarnya kalau malam udaranya cukup dingin. Bukan yang dingin banget tapi lumayanlah. Tapi di kamar bisa dibilang tidak ada ventilasi kecuali mau buka pintu dan jendela. Namanya gak ada ventilasi ya lama-lama berasa gerah. Dan kalau gerah trus buka jendela kadang sekalian masuk bau asap rokok 😦 Amsyong kan yes. Lalu pas pagi menjelang siang pun kamar terasa agak panas. Jadi emang udah bener itu pilihan buat pakai AC.
Continue reading

Advertisements

Hotel Malaka, Budget Hotel dengan Desain Minimalis Tropis di Bandung

Seorang teman menyelenggarakan resepsi pernikahannya di sebuah hotel di Bandung. Acaranya hari Sabtu malam. Duh, kalau tek-tok alias one day trip ke Bandung bisa-bisa tiba lagi di Jakarta sudah dini hari. Lebih baik nginep sekalian deh. Kalau nggak mampu bisa nginep di hotel tempat resepsi ya nginep di hotel sekitar juga gak apa-apa. Begitu cek harga kamar hotel tempat acara berlangsung, ternyata masih affordable banget. Dan saya sih langsung suka begitu liat foto-fotonya. Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Jadilah kami langsung booking kamar di Hotel Malaka.

Hotel terdiri dari dua bangunan terpisah: bangunan lobby dan kamar-kamar serta bangunan ruang serbaguna di seberangnya. Jaman dulu, bangunan hotel adalah sebuah toko roti. Penutup atap bekas bangunan lama digunakan kembali sebagai atap di bangunan serbaguna. Penggunaan warna abu-abu membuat bangunan hotel tidak terlalu mencolok malah terlihat ‘menyatu’ dengan lingkungan sekitarnya. Selain dua bangunan itu, di sisi lain terdapat bangunan semi terbuka untuk kafe.

Suka banget sama desain minimalis tropis kekinian hotel ini. Lobby dibuat semi terbuka tanpa pintu. Area lobby menyatu dengan area ruang makan untuk breakfast. Berhubung di Bandung udaranya masih enak, suasana lobby pun terasa adem meski tanpa AC. Terdapat void menerus sampai ke lantai paling atas dan atap void transparan sehingga selain sirkulasi udara lancar, cahaya matahari pun bisa maksimal masuk ke dalam bangunan. Nggak ada juga lorong kamar yang panjang, sempit dan gelap karena layout bangunan membentuk huruf U.




Kalau bagian exterior dan lobby dominan dengan warna monokrom abu-abu, begitu masuk kamar, warna putih lah yang mendominasi. Untuk tipe superior, ukuran kamarnya hanya sekitar 15m2. Etapi tenyata masih cukup kalau mau tambah extra bed sih. Agak takjub juga secara kami udah pesimis nggak bakal muat nih kalau nambah extra bed. Kalau pilih kamar dengan 1 tempat tidur, ukuran kasurnya queen bed ya, jadi agak sempit kalau untuk tidur 3 orang dewasa.
Continue reading

Menginap di Hotel Tirtagangga, Cipanas, Garut


Ketika saya sedang pilih-pilih penginapan di Cipanas, bapak saya cuma request mau penginapan yang ada kolam renang air panasnya. Saya pun sempat naksir beberapa resort di sana yang kalau liat di foto sih, pemandangan-nya oke banget. Tapi, keliatannya resort-resort itu udah lama ya. Saya kurang tau kondisinya masih bagus atau udah harus renovasi 🙂 Saya ogah kalau harus menginap di resort atau hotel tua 😛

Saya akhirnya mantap pilih menginap di hotel Tirtagangga karena 2 hal: kamarnya baru direnovasi dan punya kolam aquamedic. Dan kolam renangnya pun tipe yang biasa aja. Saya justru pilih kolam renang biasa karena saya kan pergi sama orang tua. Jadi gak butuh kolam renang ala2 waterbom yang pake seluncuran-seluncuran gitu. Biarin deh gak bisa liat view keren buat diposting di IG yang penting hotelnya oke.

Hotel Tirtagangga ini sebenarnya juga hotel lama, letaknya sudah di ujung Jl. Raya Cipanas. Kalau liat penampakan luarnya sih sungguh tidak meyakinkan. Eksteriornya keliatan jadul. Di foto sih cakep karena pas malam hari banyak lampu-lampu. Tapi saya lumayan naksir pas liat foto-foto interior kamar-nya, terlihat brand new gak ada jadul-jadulnya sama sekali. Terutama kamar tipe deluxe ke atas ya. Kamar superiornya juga terlihat cukup oke kok. Luasan tiap tipe kamar kayaknya sama, mungkin beda di view dari kamar dan fasilitas di dalam kamar.

Saya ambil kamar Grand Deluxe dan dapat di lantai 3. Lumayan juga karena hotel ini gak punya lift huhuu. Karena hotel lama, kamar nya pun cukup lega. Gak kayak hotel jaman sekarang yang kamarnya cimit-cimit. Tempat tidurnya pun king size. Buat tidur orang dewasa bertiga pun masih nyaman. Dan ternyata saya dapat kamar dengan view yang gak mengecewakan kok. Dari balkon kamar, bisa lihat ke arah kolam renang dan restoran. Agak kehalang sama pohon sih, tapi sutralah masak pohon besar gitu kudu ditebang. At least saya gak dapet view atap atau tembok rumah orang lah ya.

Continue reading

Weekend di The (New) Girrafe Royal Safari Garden

20170204_115819-copy

Yeeeay, piknik pertama di 2017! Awal bulan ini saya kembali menginap di Royal Safari Garden (RSG) Cisarua. Lebih dari 3 tahun yang lalu, saya juga pernah menginap di sini. Tempat piknik yang nggak jauh-jauh dari Jakarta ya salah satunya ke kawasan Puncak ini. Jadi meskipun rame dan macet pas weekend ya dijabanin aja hahaa..

Kali ini, saya dan keluarga menginap di ‘The Girrafe’ atau New Girrafe yang merupakan hotel terbaru di area RSG. Emang saya lagi suka nginep di hotel-hotel baru karena pasti masih bagus, desain kekinian dan kinclong. Bangunan hotel terdiri dari 4 (atau 5 ya?) lantai dan posisinya kira-kira di tengah area RSG. Kalau jalan kaki dari pintu masuk lumayan juga jaraknya, tapi juga belum sampai ke belakang banget. Di depan hotel ada parkiran mobil yang IMHO sih gak terlalu luas apalagi kalau hotel sedang full booked.

Berhubung masih hawa Imlek, hiasan dan dekorasi di pintu masuk dan lobby hotel juga bernuansa Imlek. Ada patung ayam warna merah di pintu masuk dan juga banyak lampion di lobby. Lobby-nya jadi satu dengan kafe kecil. Lobby dikelilingi dinding kaca sampai ke atas sehingga kalau siang terangnya pol apalagi atapnya juga semi transparan.
20170204_115233-copy
20170204_115535-copy
Continue reading

Menginap di Pesonna Hotel Tegal

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta setelah road trip singkat ke Jawa Tengah, kami memutuskan transit dan menginap semalam di Tegal. Selain memang perlu istirahat, bapak saya juga penasaran kepengen liat tol Brebes Timur yang nge-hits di musim mudik yang lalu 🙂

Pilihan hotel di Tegal yang bisa dipesan online sebenarnya banyak. Dari yang rate-nya murah sampai yang agak mahal. Kami nggak punya preferensi lokasi tertentu sehingga sepertinya lokasi hotel di mana aja gak masalah. Jadi saya pilih aja hotel yang masih baru, reviewnya cukup bagus dan tentu saja harganya affordable. Dan pilihan kami adalah Pesonna Hotel.
20161229_063310-copy
Hotel ini terhitung masih baru banget. Baru soft launching (dan belum grand launching) sekitar 4 bulan yang lalu. Kebayang dong, bangunannya pun masih gres dan kinclong. Karena baru soft launching dan mungkin belum full service (plus promo akhir tahun dari Trav*l*ka), saya pun dapat harga yang cukup murah.

Dari luar, bangunan hotel ber-desain cukup modern dengan warna netral. Di fasad bangunan terdapat secondary skin bermotif batik kawung. Lobby hotel tidak terlalu besar tapi tampak kekinian ala-ala hotel jaman sekarang lah. Area parkir cukup luas ada di bagian samping hotel yang sepertinya jadi satu dengan area parkir kantor Pegadaian. Oiya, hotel ini adalah salah satu unit bisnis-nya Pegadaian. Pantesan aja ada kantor Pegadaian di bagian depan jadi satu dengan bangunan hotel.
Continue reading

[Review] Wardah Intense Matte Lipstick No.5 Easy Brownie dan No.6 Blooming Pink

20161214_102425

Halo, saya kembali lagi dengan…review gincu! Demi apah coba saya beli lipstick sekaligus sampe 2 bijik gini ?? Secara saya kan bukan make up junkie. Ya abes kita kan anaknya penasaran ya. Lipstick ini kayaknya nge-hits pake banget. Katanya lipstick ini formula baru dari seri long lasting lipstick yang salah satu shade-nya pernah saya review singkat di sini. Sebenernya review ini bisa dibilang agak telat sih mengingat lipstick ini sudah mulai booming 3-4 bulanan lalu.

Wardah intense matte lipstick terdiri dari 12 shade dan semua warnanya terlihat tsakep-tsakep banget. Semakin besar nomor shade nya, warnanya semakin ‘bold’. Awalnya tentulah galau mau beli shade yang mana. Manalah kalau ke konter Wardah gak ada testernya pulak. Pinter banget sih ini trik marketingnya bikin orang penasaran dan beli sekaligus beberapa bijik. Saya sampai bolak-balik liat blog review dan Youtube untuk cari shade yang cocok. Tapi untungnya, Wardah buka stand di bazar gedung kantor sebelah dan ternyata ada beberapa tester untuk seri intense matte dan lip cream. Langsung lah gak mau rugi coba-coba HAMPIR semua testernya 😛

Saya nggak ngerti nih skintone saya masuknya ke mana. Entah fair atau medium. Trus bibir saya juga agak gelap kan. Dari hasil coba tester, yang nomor-nomor awal (antara 1-4) terlihat pucat di saya. Keluar sih warnanya tapi kurang oke. Apalagi yang no.4 mauve mellow jadinya hampir sama seperti warna bibir. Kalau mau tampil no-make up make up, no.4 ini cocoklah. Sementara untuk nomor-nomor besar (no.8 ke atas) warnanya lebih gelap dan bagus untuk yang mau tampil beda sesekali. Karena saya lagi cari lipstick untuk sehari-hari akhirnya mutusin beli 2 : shade no.5 Easy Brownie dan no.6 Blooming Pink.

Desain box-nya saya akui sangat kekinian. Berwarna sesuai warna lipstick di dalamnya. Jujur liat box-nya aja udah bikin mupeng deh. Untuk tube-nya sendiri masih sama persis seperti seri long lasting yang pernah saya review singkat di sini. Keren sih, ramping dengan warna silver doff . Tapi yang ramping gini bikin takut lipstiknya rawan patah seperti yang long lasting. Jadi kalau mau pake putar secukupnya aja jangan terlalu banyak.

Dan bener seperti review orang-orang, lipstick ini ternyata gampang diaplikasikan dan gak se-seret yang long lasting. Hasil akhirnya di saya sih tetap matte. Gak bikin bibir kering, gak ada aroma apapun, berasa ringan banget dan nggak creamy. Suka lah pokoknya. Pigmentasi juga oke. Bisa menutup warna bibir dengan baik. Well, dari semua seri lipstick Wardah yang pernah saya coba, saya nggak pernah kecewa dengan pigmentasinya.

Continue reading

Lipstik Merah

Eeaa jarang-jarang nih saya posting soal per’lenong’an 🙂

Selama ini, untuk lipstick biasanya saya pilih warna oranye, coklat muda, atau coral. Kayaknya memang warna-warna sejenis itu yang ‘aman’ dan pas dengan skin tone saya. Entah buat sehari-hari atau acara khusus tetap aja pakai warna-warna aman itu. Mau pakai warna nude kayaknya pasti bikin keliatan pucat banget deh.

Tapi kan, perlu juga keluar dari zona nyaman toh? Jadilah saya coba lipstick merah ! Kalau dengar kata lipstick merah yang terlintas di pikiran saya adalah menor dan ngejreng hahaa. Berhubung lipstick merah lagi ngehits, eh atau udah lama ya ngehitsnya cuma saya aja yang telat gaul :), akhirnya saya ‘kena racun’ nya juga.

So far saya cuma punya 2 lipstik merah, itu pun yang satu boleh dapat gratisan menang giveaway hahaha. Review ini juga bukan battle of red lipstick ya secara dua lipstick ini dari jenis yang beda. Dan saya memang sukanya produk lokal karena murah warnanya IMHO gak ajaib macam lipstick luar.  Terus karena belum biasa nge-review produk juga jadi ya reviewnya awam banget dan dengan foto ala kadar nya ya.

Continue reading