Menutup Unitlink

Cuti di akhir tahun lalu saya manfaatkan salah satunya untuk membereskan urusan-urusan yang selama ini tertunda2. Termasuk menutup salah satu unitlink saya. Iyaaa, sebelumnya saya punya 2 unitlink. Mau ditutup salah satunya karena errr…ya nggak cocok aja sama saya. Pernah dulu cerita soal unitlink di sini. Males lah berpanjang lebar soal kontroversi unitlink vs asuransi & investasi terpisah. Kalau ada yang mau tau silakan googling sendiri ya. Intinya saya mau nutup unitlink.

Kebetulan unitlink yang mau saya tutup ini jenisnya single premi. Sudah saya miliki 3 tahun lebih. Ini mah judulnya rada kejebak karena waktu itu saya udah tau loh klo unitlink kurang direkomendasikan oleh kebanyakan independent finplanner. Ah sutralah. Beberapa kali cek jumlah saldonya ya gitu deh, nilai investasinya ‘cuma’ berkembang gak lebih dari 5% selama 3 tahun. Ini masih mendingan loh daripada unitlink saya yang satunya lagi yang sistemnya bayar bulanan. Tapi tetep aja sih memutuskan mau nutup juga maju mundur cantik mulu. sigh

Banyak yang bilang kalau mau nutup unitlink jangan hubungi atau datang ke agen atau salesnya. Tapi langsung aja datang ke kantor pusat-nya. Dengan catatan unitlink nya belum terlalu lama beli ya (dibawah 1-2 tahun CMIIW). Kalau hubungin agen tempat kita dulu buka takutnya dirayu2 biar jangan ditutup karena pengaruh ke sales performance si agen. Nah, di kasus saya karena punya nya udah lebih dari 3 tahun ya saya datengin aja kantor cabang bank tempat saya buka. Udahlah pe de aja karena saya juga udah gak kontak2an lagi sama agennya dan kayaknya tuh agen udah gak di kantor cabang bank sana sih. Unitlink saya ini memang produk bancassurance. Males ah nyebut merk. Tapi kayaknya sih bakal ketebak merk-nya 😛 Continue reading

Advertisements

Unitlink oh Unitlink…

Dulu, di akhir taun 2008 ada temen yang nawarin unitlink. Asli waktu itu saya masih buta banget ini produk apaan. Taunya cuma itu produk asuransi sekaligus investasi. Keliatannya bagus ya, dapet proteksinya dari asuransi plus duit kita ‘berkembang’ karena ada porsi yang diinvestasikan. Niatnya waktu itu karena saya masih single daripada duit dipake kemana2 gak jelas ya udah itung2 ‘ditabung’ aja di produk itu. Ada sih ditunjukkan ilustrasinya, dijelaskan asuransinya meng-cover apa aja terus investasinya di produk apa (maksudnya lebih besar prosentase ke saham ato obligasi atau keduanya) tapi tetep aja belum begitu mudeng. Mau nanya2 juga gak ngerti apa yang mau ditanyain. Singkat kata, saya beli deh produk itu. Dulu juga belum tau klo itu istilahnya ‘unitlink’. Dan bisa dibilang itulah pertama kali saya bersentuhan sama produk asuransi dan investasi.

Begitu terima polisnya, dibaca2 bentar trus ditarok lemari gak dibuka2 lagi. Pembayaran premi perbulannya pun saya minta di-autodebet aja biar gak repot. Bener2 abis terima polis sengaja gak diliat2 lagi. Maksudnya sih seperti lirik lagu…’tang ting tung jangan dihitung tau2 kita nanti dapat untung…’#ngarep. Bulan demi bulan berlalu..tahun berganti..#halah. Tapi kok duit saya ‘berkembang’nya lambat amat yak. Diliat dari ilustrasinya saya juga tau sih kalo di tahun2 pertama (dari 10 tahun masa pembayaran premi) bakal banyak biaya macem2 termasuk untuk biaya asuransinya sehingga gak bisa mengharapkan duit kita ‘berkembang’ banyak. Keliatan sekali akan rugi gede di taun2 pertama.

Suatu hari saya secara gak sengaja terdampar di sebuah blog (maaf beribu maaf saya lupa blognya siapa) yang salah satu postingannya membahas perbedaan kalau kita beli asuransi dan investasi terpisah atau beli asuransi + investasi  (unitlink). Di situ ditampilkan ilustrasi kalo ternyata lebih efisien beli asuransi dan investasi secara terpisah karena cost-nya lebih murah tapi hasilnya (baik proteksi maupun investasinya) lebih maksimal. Lah berarti saya ‘salah’ beli produk dong? Baru deh pikiran mulai terbuka. Saya lalu mulai sering tanya2 mbah gugel soal finansial terutama perasuransian dan perinvestasian ini. Hadeeeeh knapa baru melek gini hari yak?

Continue reading