Azila Villa, Venue Kece di Timur Jakarta

Bosen nggak sih kumpul-kumpul sama teman lagi-lagi di mal? Terus pengen gak sih arisan keluarga di tempat yang lain gitu gak di rumah atau restoran biasa? Atau bingung cari tempat untuk acara syukuran atau party kecil-kecilan? Maunya yang di seputaran Jakarta aja? Saya ada nih tempat tsakep untuk itu semua 🙂 Tempatnya pun masih terhitung baru.

Di penghujung Juli lalu saya berkesempatan untuk ’menikmati’ kumpul-kumpul bareng teman-teman kuliah di Azila Villa Jakarta. Silaturahmi sekaligus halal bihalal berhubung masih bulan Syawal. Kebetulan owner-nya adalah teman kuliah sehingga kami dipersilakan pakai tempatnya. Makasih loh pak MBos CEO 🙂 Oiya, tempat ini juga masih 1 grup dengan Svarga Resort Lombok.

Kalau di-googling saat ini sih, tempat ini dikenal sebagai venue wedding party. Tapi sebenarnya, ini adalah tempat serbaguna, bisa untuk arisan keluarga, pesta ulang tahun, sekedar kumpul-kumpul sama teman atau komunitas, bahkan untuk acara yang lebih formal seperti wedding party atau meeting kantor. Eh buat garden party juga tsakep. Lokasi villa ini ada di Cipayung Jakarta Timur. Persis di sebelah Pelatnas PBSI. Jalan menuju ke sana memang agak gak familiar dan belok-belok sih. Tapi tinggal ikutin petunjuk di GPS atau map aja InsyaAllah gak akan kesasar deh.

Dan beruntungnya , pak Mbos CEO alias owner Azila Villa mengajak kami untuk ekskursi kecil-kecilan keliling ke seluruh ruangan di sini. Suasana di sini tenang dan asri banget. Lokasinya kan memang agak ‘terpencil’ ya. Pohon-pohon yang sudah ada sebelum villa dibangun berusaha dipertahankan alias nggak ditebang. Pemiliknya sempat cerita bahwa dia cukup sedih juga pas ada 1 pohon yang akhirnya mati sehingga terpaksa harus diganti dengan pohon lain. Di tanah seluas (kalau gak salah) 1200 m2 ini berdiri bangunan villa 2 lantai dengan berbagai fasilitasnya.

Continue reading

Advertisements

Pacu Adrenalinmu di Waterbom PIK

Semakin tua bertambah usia, kayaknya saya semakin penakut aja untuk mencoba hal-hal yang memacu adrenalin. Sampai akhirnya mau gak mau saya nyoba juga wahana-wahana air pemacu adrenalin di Waterbom PIK Jakarta. Ya kan kita anaknya gak mo rugi apalagi udah jauh-jauh ke PIK gitu.

Oiya, untuk masuk ke sini dilarang bawa makanan dan minuman dari luar. Di pintu masuk akan diperiksa tas dan barang bawaan kita. Jujur aja saya gak suka nih prosesi meriksa-meriksa barang bawaan kek gini. Tapi jangan sedih, sebelum pintu masuk ada lobby kecil dengan meja dan kursi yang bisa dipakai untuk makan dan minum.

Impresi pertama ketika masuk sini adalah tempatnya yang asri. Luas dan cukup tertata. Pelampung untuk anak-anak dan ban tersedia dan bisa dipakai free (tidak dikenakan biaya). Tersedia beberapa gazebo yang bisa disewa serta beberapa bangku yang bisa dipakai bebas. Buat yang gak bawa baju renang, ada penyewaan baju renang atau bisa beli juga. Ada juga penyewaan loker ukuran single atau family. Pembayaran sewa loker dan juga kalau mau jajan makanan minuman di dalam venue menggunakan sistem cashless. Jadi ada gelang berisi saldo + deposit yang bisa dipakai. Sisa uang dan deposit bersifat refundable.

Continue reading

Icip-icip Eskrim Jadul Ragusa

Di suatu siang menjelang sore yang cuacanya lumayan panas, saya dan dua orang sepupu terdampar di salah satu pintu pagar Masjid Istiqlal. Ceritanya naik free city tour bus keliling Jakarta dan turun di halte bus Istiqlal. Kami mau pindah ke city tour bus yang ke arah Kota Tua yang kebetulan juga lagi ngetem di halte yang sama. Dan dasar bukan rejeki, begitu kita turun mau pindah bis, bis yang mau kita naikin pintunya sudah tertutup dan mulai jalan pelan-pelan hiks…

Lalu saya merasa kedai es krim Ragusa yang legendaris itu kayaknya deket banget tuh dari situ. Liat map dan tanya-tanya orang ternyata memang benar udah deket banget. Alamatnya sih di Jl. Veteran 1 No. 10. Posisi jalannya di samping Masjid Istiqlal, sejajar sama sungai dan rel kereta. Jalan masuknya nya memang kecil. Kalau pakai kendaraan umum bisa naik KRL commuter line turun di Stasiun Juanda terus nyeberang lewat jembatan busway. Kalau naik Transjakarta turun di halte Juanda lalu susurin jalan yang sejajar sungai. Gagal naik bis ke Kota Tua, akhirnya kami mampir dulu aja ke es krim Ragusa.
20160813_155422

Dalam bayangan saya nih, enak ya sore-sore makan es krim bercitarasa jadul sambil ngobrol-ngobrol dan menikmati suasana kedai es krim yang ala-ala bangunan jaman kolonial. Yang ternyata semuanya buyar sodara-sodara hahaa…

Continue reading

Melihat Jejak Sejarah Bangsa di Museum Nasional

IMG_4193 copy

Di musim hujan seperti sekarang ini agak males ya ngelakuin kegiatan-kegiatan outdoor. Sehingga weekend saya lebih banyak dihabiskan di rumah. Setelah menamatkan beberapa drama serial Korea #tutupmuka, saya rada mati gaya juga nih. Salah satu tempat yang bisa didatengin pas musim cuaca gak tentu gini adalah….museum!! Hehe…kebetulan saya belum pernah lagi nih ke Museum Nasional sejak direnovasi 🙂 So, berangkuts kita…

Sampai di sana masih agak pagi, tapi udah banyak rombongan anak sekolah. Di halaman depan museum selain ada patung gajah hadiah dari raja Thailand, juga terdapat artwork karya Nyoman Nuarta. Artwork berbentuk pusaran ini adalah ikon baru Museum Nasional. Biar orang mulai terbiasa nyebutnya Museum Nasional dan bukan Museum Gajah 🙂 Dilihat sekilas sih bentuknya seperti pusaran aja. Tapi kalau diperhatikan lebih detail, ada beberapa sculpture orang di dalam pusaran itu. Bayar tiket masuk IDR 5k, terus mulailah menjelajah Museum Nasional ini. Continue reading

Museum Walk with KHI

Di #KTCF2014 ini ada 2 acara ekskursi yang bekerjasama dengan Komunitas Historia Indonesia (KHI), Kelana Kota Tua (KKT) dan Museum Walk. Sebenarnya saya pengen ikutan KKT sih, tapi kok ya asa nggak sanggup jam 6 pagi udah musti ngumpul di Pelabuhan Sunda Kelapa. Jadilah akhirnya saya ikutan Museum Walk. Sesuai namanya, Museum Walk ini adalah kegiatan eksplore beberapa museum di Kota Tua dengan berjalan kaki. Ya kebetulan juga tempat2 yang mau dikunjungi letaknya masih di sekeliling Taman Fatahillah.

Baru pertama kali ini sih saya ikutan di acaranya KHI. Selain liat-liat koleksi museumnya, guide dari KHI juga menjelaskan sejarah gedung2 museum tersebut. Kita dibagi menjadi beberapa grup. Saya bergabung di grup 1 bersama 20-an teman baru 🙂 Tur dimulai dengan briefing di Taman Fatahillah untuk selanjutnya menuju ke Museum Sejarah Jakarta-Stasiun Kota-melewati Museum Mandiri dan Museum BI-Museum Wayang-Museum Seni Rupa dan Keramik.

Museum Sejarah Jakarta
Museum Sejarah Jakarta (MSJ) adalah nama resmi dari Museum Fatahillah. Iya kayaknya orang lebih mengenal sebagai Museum Fatahillah deh. Museum ini masih dalam proses renovasi. Tapi sudah dibuka untuk umum meskipun renovasinya belum 100% selesai. Saya terakhir ke sini waktu jaman kuliah. Dan setelah direnovasi keliatan jauh lebih oke.

Museum ini dulunya adalah kantor Balai Kota/Stadhuis dan dibangun di masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC JP Coen. Di sinilah pusat kegiatan VOC di abad 17 sampai 18. Selain sebagai pusat pemerintahan, juga digunakan sebagai kantor pengadilan, catatan sipil dan penjara. Konon dulunya di halaman depan gedung digunakan sebagai tempat eksekusi hukuman mati narapidana tahanan VOC.

Bangunannya terdiri dari 3 lantai termasuk lantai bawah tanah yang dulunya digunakan untuk penjara. Di bagian belakang terdapat taman. Di taman ini terdapat patung Hermes yang merupakan dewa keberuntungan dalam perdagangan. Koleksinya terdiri dari lukisan, prasasti, gerabah/keramik dan benda-benda lain yang berkaitan dengan sejarah Batavia. Continue reading

Mendadak Monas

Setelah keliling-keliling Jakarta sama #MpokSiti, tiba-tiba kepikiran untuk mampir ke salah satu tempat wisata yang dilewati bus wisata @citytourjakarta ini. Pilihannya 2: Museum Nasional (Museum Gajah) atau Monas. Akhirnya saya memutuskan untuk ke Monas aja lah. Saya terakhir ke Monas jaman SMP kali ya. Karena pas weekday harapannya sih Monas gak terlalu ramai.

Masuk ke Monas itu untuk yang nggak ngerti bisa jadi cukup ‘drama’. Pertama, nyari pintu masuk ke kawasan Monas-nya. Untuk yang bawa kendaraan (motor,mobil,bus) bisa parkir di parkiran IRTI (Jl. Medan Merdeka Selatan). Untuk yang naik kendaraan umum (TransJakarta TJ) bisa turun di halte Monas (Jl. Medan Merdeka Barat) tapi jalan kakinya cukup jauh kalau turun di sini. Banyak yang suka terkecoh. Kalau naik TJ, naiklah jurusan Harmoni-Pulo Gadung dan turun di halte Gambir. Setelah masuk pelataran Monas, drama selanjutnya adalah…di mana pintu masuk Monas-nya?? Keliling muter-muter sambil tanya petugas, untuk masuk ke Monas hanya bisa lewat terowongan bawah tanah. Sayang ya, landmark Jakarta tapi petunjuk masuknya kurang jelas. Continue reading

Keliling Jakarta bareng #MpokSiti

Yeeeay…akhirnya kesampaian juga saya nyobain bus tingkat wisata keliling Jakarta @citytourjakarta. Jadi Jakarta sekarang sudah punya bus wisata, nggak kalah sama negara lain. Pengemudinya semuanya perempuan, makanya bus ini disebut #MpokSiti. Sejauh ini baru ada 5 unit dan untuk naik bus ini masih free alias gratis entah sampai kapan.

Pagi-pagi kalau berangkat ke kantor, saya sering liat deretan bus tingkat ini berjejer di kawasan Cawang-Pancoran. Mungkin baru keluar dari pool-nya yang entah di mana. Pengen nyobain tapi belum sempet-sempet nyari waktu di weekday. Kalau pas weekend pasti rame dan penuh deh.

Untuk nyobain bus tingkat itu, saya naik busway dan turun di halte Sarinah. Keluar dari halte busway, tunggu aja di halte depan gedung Sarinah yang ada tanda ‘city tour’ nya. Paling enak pas weekday dan bukan pas libur sekolah. Kemarin karena saya naik pas weekday dan masih pagi, bus nya sepiii. Bahkan bagian bawah bus kosong nggak ada penumpang. Bagian atas pun nggak sampai setengah nya yang terisi. Paling enak duduk di lantai atas-nya. Dari halte Sarinah, bus ini memutar di Bundaran HI, menuju Jl. Medan Merdeka Barat-Jl. Juanda- Pasar Baru- Gereja Katedral-Masjid Istiqlal-Jl. Medan Merdeka Utara-Medan Merdeka Barat-Jl. Medan Merdeka Selatan-memutar di Balai Kota dan balik lagi ke Jl. MH. Thamrin.

Kapasitas bus ini sekitar 60 orang. Dan semua yang naik harus duduk, nggak boleh ada yang berdiri. Makanya pas weekend, antrian untuk naik bis ini cukup panjang. Namanya juga bus wisata, jangan berharap bus ini jalan cepat ya. Bus ini jalan pelan-pelan biar kita cukup waktu untuk lihat kiri-kanan. Untuk satu putaran membutuhkan waktu kira-kira 30-45 menit. Continue reading