Mengenal Alam di Jendela Alam, Lembang

Kawasan Lembang di utara Bandung memang bertaburan tempat wisata ya. Salah satunya adalah Jendela Alam. Sebenernya tempat wisata ini gak terlalu baru, tapi mungkin memang gak se-ngehits macam Kampung Gajah, Dusun Bambu, The Ranch atau Floating Market. Atau mungkin memang saya aja yang nggak gaul dan kurang piknik.

Untuk menuju ke sini saya melalui rute Setiabudi lalu menuju ke Jl. Sersan Bajuri. Dari Kampung Gajah masih lurus terus. Oiya kalau tau resto Sapu Lidi, nah Jendela Alam ini sekompleks (atau sebelahan ya agak2 lupa) dengan Sapu Lidi.

Konsep tempat ini adalah kawasan wisata yang juga tempat edukasi mengenai alam dan linkungan. Harga tiket masuknya cukup murah menurut saya. Tapi untuk masuk ke wahana-wahana yang ada harus bayar lagi. Tiket-nya berupa semacam gelang yang nantinya di pintu keluar bisa kita tukar dengan souvenir. Tersedia juga tiket terusan sehingga bisa masuk ke wahana tanpa bayar lagi. Karena saya ke sini dalam rangka momong keponakan yang masih umur 3 tahun, jadi ya kami cuma beli tiket masuk biasa sambil ngikutin si bocil maunya kemana 🙂20150719_105533 copy

Salah satu kegiatan yang diikuti adalah animal feeding. Jadi, si bocil diberi keranjang berisi sayuran dan daun-daunan, kemudian kami menuju ke beberapa kandang hewan untuk memberi makan. Kita bisa minta didampingi guide atau fasilitator dan ini tanpa diminta biaya tambahan. Cuma ya tau diri aja sih untuk ngasih tips seikhlasnya. Berhubung kami ke sini sudah agak siang (jam 11-an) dan ketika itu sedang libur lebaran, maka pengunjung rame dong sehingga si hewan2 ini udah kekenyangan karena dari pagi sudah banyak yang ngasih makan. Jadi pas si bocil giliran ngasih makan, si hewan udah keburu gak napsu dan ogah2an makannya. Alhasil itu daun2an di keranjang nyisa aja gitu. Hewan yang dikasih makan ini antara lain kelinci, kambing, kuda, sapi. Animal feeding ini kayaknya salah satu kegiatan favorit di sini.

20150719_111544 copy

20150719_110910 copy

Continue reading

Ngebolang dadakan ke Pulau Pramuka

Orang Jakarta kalau mau liat pantai dan laut yang masih lumayan bersih dengan bujet murah meriah kemana lagi perginya kalau bukan ke Kepulauan Seribu 🙂 Postingan telat banget sih ini sebenarnya. Kebetulan yang ngajakin adalah teman sekantor dan rombongan kita kali ini kebetulan cewek semua. Dan seperti biasa, ngebolangnya ala-ala backpacker ya.

Biar gak ribet, kami ikutan paket trip 2 hari 1 malam aja, berangkat Sabtu subuh pulang Minggu sore. Banyak kan tuh ya paket trip-paket trip ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Harganya pun antara organizer yang satu dengan yang lain nyaris sama. Kemarin itu kami ikut paket dari Sadewa Tour. Bayar DP sebelum berangkat dan dilunasin pas kita sudah sampai di Pulau Pramuka. Dan dilunasinnya pas malemnya pulak 😛

Untuk ke Muara Angke, kita carter angkot aja dong. Carter dari UKI sampai Muara Angke kena 15rb per orang. Katanya sih bisa lebih murah cuma karena kita juga cuma bersembilan jadi ya sutralah. Begitu mo masuk Muara Angke yasalam macet ajah. Malah macetnya sebelum dari Muara Angke deng. Kita lupa kalau hari Sabtu itu tanggal merah. Dan konon katanya jadi kesempatan buat liburan orang-orang yang kantornya gak libur di hari Sabtu. Sampai di pom bensin Muara Angke ya seperti biasanya tiap weekend, rame ajah. Cuma kita gak nunggu lama2 sih, langsung kontak EOnya, trus disuruh kontak orang kapalnya, ketemu orang kapal dan langsung naik ke kapal. Jadi jam 6 pagi kita udah lesehan di kapal. Jadi orang-orang pertama yang masuk ke kapal. Dan kapal baru berangkat hampIr jam setengah 9.

Continue reading

Lampung Getaway

16-18 Maret yang lalu, saya dan temen2 OOTers melakukan perjalanan ke Lampung. Rombongan kali ini jumlahnya 14 orang, sengaja biar pas klo nyewa 2 mobil. Eh sebenernya tadinya ada 15 orang sih, tapi Ratu batal ikut di saat2 terakhir.

Meeting point di terminal Kampung Rambutan, Jumat jam 7+ngaret+makan malam dulu. Akhirnya bis bergerak menuju Merak jam 8.30 an. Sampai di terminal Merak jam 12-an dan kami langsung menuju pelabuhan (jalan kaki kira2 700m lah). Di pelabuhan, kami beli tiket trus naik ke kapal menuju pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Kami tiba di pelabuhan Bakauheni Lampung , Sabtu jam 4 subuh. Sebenernya jarak Merak-Bakauheni gak terlalu jauh, tapi karna kecepatan kapalnya konon cuma 15km/jam (ini menurut GPS-nya(?) si Andri) jadi penyeberangan Merak-Bakauheni membutuhkan waktu kira2 3 jam. Bisa juga naik kapal cepat tapi ini cuma ada sampai sore hari kalo gak salah.

Sampai di pelabuhan Bakauheni, kami dijemput mobil rental (sdh dipesan dari Jakarta) dan langsung menuju Way Kambas. Jarak dari Bakauheni ke Way Kambas ini lumayan jauh. Saya nggak tau deh ngelewatin mana aja karena masih subuh juga, gelap n gak keliatan mana2. Akhirnya malah kebanyakan tidur di mobil.

gerbang taman nasional Way Kambas, dari sini masih 9 km lagi ke pusat konservasi gajah

trio macan…atau trio gajah?? :p

Akhirnya setelah melewati jalan yang rusak sana sini, kami sampai juga di pintu gerbang Taman Nasional Way Kambas sekitar jam 9.30. Dan untuk ke kawasan konservasi gajah-nya, masih harus menempuh jalan kurang lebih 9 km lagi…*pfiiiuh. Begitu sampai di sana, langsung ke kantor pusat konservasi gajah dan mereka akan nyiapin 14 gajah buat kami untuk safari di sekitar taman nasional Way Kambas. Jadi, masing2 orang naikin 1 gajah, didampingi sama pawangnya juga yaa..*ya eyalaah.Safari gajah ini durasinya sekitar 30 menit, jalurnya masuk ke hutan-hutan, lewatin sungai yang banyak lintahnya, n kembali lagi ke pos awal di dekat kantor nya. Btw, ternyata ngumpulin 14 gajah ini lama juga cuy, gajahnya dikumpulin satu per satu di pos awal sampe sejumlah 14 ekor (sesuai jumlah rombongan kita). Sampe2, pawangnya sempet nawar, ”klo 1 gajah buat 2 orang aja gmana?” dan langsung ditolak mentah2 sama Amri, “gak mau mas, kita maunya satu2, gak papa nunggu lama”. Dan orang sana nya pun cuma bisa pasrah 🙂

Continue reading

Lunar New Year 2563

Tanggal 23 Januari 2012 lalu bertepatan dengan taun baru China 2563, saya dan temen2 OOTers menjelajah ke daerah pecinan Glodok, yang dikenal dengan Petak Sembilan. Konon, daerah ini adalah kawasan pecinan pertama di Jakarta/Batavia. Niatnya memang mau explore klenteng2 di seputaran sana, tapi akhirnya perjalanan berlanjut sampe ke kawasan Kota Tua bahkan ke suaka margasatwa di Muara Angke.

Meeting point di halte busway Glodok jam 9 + ngaret + sarapan dulu, akhirnya kita mulai jalan jam 10 kurang. Untuk menuju ke petak Sembilan, persis setelah jembatan toko Glodok, kita jalan ke arah kiri menyusuri pertokoan dan sampai di gang kecil. Dari depan gang udah keliatan hiasan2 lampion n beberapa petugas sedang berjaga2. Jalan kira2 300an meter masuk ke gang, di sebelah kanan kita langsung ketemu pintu kecil untuk masuk klenteng Jin De Yuan. Pintu masuk ini kayaknya bukan pintu utama sih. Suasana di halaman maupun dalam klenteng cukup ramai dan padat. Banyak juga fotografer2 yang mengabadikan acara saat itu. Malah bisa dibilang jumlah orang yang mau sembahyang dan jumlah pengunjung + fotografer sama banyaknya. Sebenarnya, puncak perayaan Imlek itu adalah Cap Go Meh, yang waktunya kira-kira 2 minggu setelah taun baru imlek.

Continue reading

Museum Bank Indonesia

Setelah ke Museum Bank Mandiri, perjalanan saya lanjutkan ke Museum Bank Indonesia yang letaknya tepat di sebelah Museum Bank Mandiri. Sepertinya gedung ini baru mengalami renovasi sehingga tampilan bangunan baik eksterior maupun interior berkesan bersih dengan area parkir yang luas. Dengan tiket masuk gratis, Museum BI ini merupakan salah satu museum terbaik yang pernah saya kunjungi. Bangunan berarsitektur art deco ini awalnya adalah rumah sakit (ziekenhuis) yang kemudian menjadi kantor de Javasche Bank. Setelah kemerdekaan, gedung ini lalu digunakan sebagai kantor Bank Indonesia.

Pintu kaca otomatis menyambut pengunjung memasuki museum. Pengunjung lalu harus melewati metal detector dan pemeriksaan keamanan. Tas dan barang bawaan (kecuali barang berharga) dititipkan di lobi. Di bagian atas pintu masuk terdapat kaca patri. Plafon pada area lobi berbentuk lengkung, mengingatkan pada plafond Stasiun Beos Kota. Melewati pintu putar, saya memasuki ruang resepsionis untuk mengisi buku tamu dan mengambil tiket. Lalu saya masuk ke ruangan yang di dalamnya terdapat proyektor yang menampilkan uang koin yang berterbangan. Jika kita ‘menangkap’ koin tersebut dengan bayangan tangan kita maka akan tampil informasi mengenai koin tersebut. Ruangan berikutnya adalah ruang teater. Ketika saya ke sana, kebetulan sedang tidak ada film yang diputar.

 Museum ini menampilkan diorama kegiatan perdagangan dan perekonomian Indonesia sejak jaman VOC termasuk juga cerita soal krisis moneter tahun ’98. Museum BI ini dilengkapi dengan pendingin ruangan dan terdapat beberapa LCD dilengkapi dengan speaker yang menampilkan berbagai informasi terkait dengan dunia perbankan dan perekonomian.

Continue reading

Museum Bank Mandiri

Berhubung Sabtu 19 November 2011 saya bingung gak tau mau kemana buat ngisi waktu akhir pekan, saya main2 ke Kota Tua. Karena berangkatnya juga udah agak siang, jadi saya hanya sempat ke Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.  Museum Bank Mandiri dan Museum BI ini terletak di seberang Stasiun Beos Kota. Kalau naik Transjakarta tinggal turun di halte terakhir (halte Kota) terus tinggal ikutin ramp ke bawah, lewatin terowongan dan sampailah di Museum Bank Mandiri.

Untuk masuk ke Museum Bank Mandiri, khusus nasabah Bank Mandiri nggak dikenakan tiket masuk dengan nunjukin kartu ATM. Kalau untuk umum, ada tiket masuk Rp.2000. Museum Bank Mandiri yang berarsitektur Art Deco ini pada awalnya adalah bangunan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang jadi perusahaan perbankan. Perusahaan Belanda itu kemudian dinasionalisasi tahun 1960 dan gedung ini sempat jadi kantor pusat Bank Exim sebelum akhirnya merger dengan 3 bank lain menjadi Bank Mandiri.

Begitu memasuki lantai dasar, kita langsung disuguhi suasana perbankan tempo doeloe. Terdapat meja teller panjang lengkap dengan kursi dan manekin yang menggambarkan kegiatan perbankan di masa itu. Di sebelah kanan, terdapat area khusus untuk nasabah Cina, juga lengkap dengan meja teller, kursi dan manekin. Koleksi museum terdiri dari benda-benda yang berkaitan dengan perbankan dari masa ke masa, mulai dari mesin tik, kalkulator, mesin ATM, mesin penghitung uang sampai berbagai jenis instrumen keuangan seperti sertifikat deposito, cek, giro dan kartu ATM.

Bangunan yang dirancang oleh arsitek Belanda ini lantainya terbuat dari ubin tegel warna gelap dengan sebagian dinding berupa keramik mozaik yang katanya didatangkan dari Italia. Si arsitek benar-benar memperhatikan iklim tropis Indonesia dalam desain bangunannya, seperti layaknya bangunan-bangunan peninggalan Belanda lainnya. Plafond dibuat cukup tinggi, kusen-kusen terbuat dari kayu dengan ukuran yang besar-besar dengan jalusi di beberapa bagiannya. Selain itu, terdapat inner courtyard di tengah-tengah bangunan yang ditutupi rumput lengkap dengan beberapa pohon besar. Dan courtyard ini dikelilingi oleh selasar yang cukup lebar. Dengan begitu, sirkulasi udara berjalan baik dan terasa sejuk di dalam bangunan.

Continue reading

Trip to Derawan (part 4)

Day 4 (Senin,14 November 2011)

Di hari terakhir di Derawan ini saya tidak sempat menyaksikan sunrise. Karena sempat hujan dan jam 9-an kami harus segera ke Tarakan, maka pagi-pagi saya memutuskan untuk segera mandi dan packing (karena kalo agak siang dikit pasti mandinya antriii). Setelah sarapan dan foto2 di depan homestay, kami meninggalkan pulau Derawan menuju Tarakan menggunakan speedboat. Tiba di Tarakan tengah hari, kami mencarter angkot menuju Pasar Tarakan untuk belanja oleh-oleh. Di pasar Tarakan ini barang yang banyak dijual adalah makanan dan minuman kemasan dari Malaysia serta hasil laut seperti ikan dan cumi kering serta terasi. Di pasar Tarakan ini, saya dan beberapa orang sempat makan coto Makassar karena keburu lapar

Dari pasar Tarakan, karena masih ada waktu, kami menuju ke hutan mangrove Tarakan untuk melihat bekantan, hewan sejenis kera berhidung besar yang jadi maskot Dufan. Yah jalan-jalan di hutan mangrove ini bisa dibilang bonus lah..Kami menikmati makan siang di tengah hutan mangrove ini. Setelah itu, kami langsung menuju bandara karena pesawat dijadwalkan terbang jam 17.20 WITA. Kalau ketika berangkat rombongan kami dibagi beberapa kloter, untuk pulangnya kami ber-33 ada di dalam 1 pesawat. Sempat delay sebentar, akhirnya pesawat yang merupakan penerbangan terakhir dari Tarakan hari itu pun take off jam 18 lewat. Sampai di Bandara Sepinggan Balikpapan, rombongan berpisah dengan Mas Maliq, Amri dan Tika yang masih mau extend liburan di Balikpapan. Dan akhirnya kami tiba di bandara Soetta jam 20.30. Salah satu teman kita, Ribut, masih harus melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Dan pulanglah kami ke rumah dengan membawa kenangan masing-masing. Berakhir sudah trip ke Derawan dan siap-siap untuk kembali beraktivitas menghadapi kenyataan hidup di Jakarta#halah

Continue reading